TRADISI WIWITAN DI DUSUN GEDEN SIDOREJO LENDAH KULON PROGO
TRADISI WIWITAN DI DUSUN GEDEN SIDOREJO LENDAH KULON PROGO
Oleh:
Uswatun
Khasanah
2016015360
Abstract
Artikel
ini bertujuan mendeskripsikan tentang tradisi wiwitan di Dusun Geden Sidorejo Lendah Kulon Progo beserta makna
filosofi dan nilai – nilai yang terkandung. Sumber data diperoleh melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi. Tradisi wiwitan adalah ritual persembahan sebelum panen padi dilakukan
sebagai rasa syukur atas panen padi yang melimpah. Acara ini diikuti oleh
seluruh warga Geden dengan menggunakan baju tradisional Jawa, mengarak gunungan
berupa padi, sayur – sayuran dan buah – buhan. Prosesi tradisi wiwitan ini dengan peletakan
ubarampe berupa alang-alang, ron
dadap serep, reton tebu, kendi, bunga
mawar, bunga kantil, bunga kenanga, sego wiwit, pisang raja, menyan dan besek,
selanjutnya prosesi pemotongan beberapa helai padi dengan menggunakan ani- ani untuk simbol padi siap dipanen.
Setelah ritual selesai kemudian prosesi rebutan gunungan yang diikuti oleh
penonton yang melihat tradisi tersebut. Ciri khas makanan dari tradisi wiwitan berupa sego wiwit dengan lauk
sambel gepeng, ingkung dan telur rebus. Dalam acara ini juga disuguhkan beberpa
hiburan seperti penampilan kesenian karawitan, drumband, tari gambyong, dolanan
anak, rodatan, sholawatan dan tari reog.
Kata Kunci:
Tradisi, Sebelum panen padi, Gunungan, Wiwitan
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan masyarakat multikultural di mana terdapat banyak suku, bahasa, adat
istiadat, agama, kesenian, budaya dan lain sebaginya. Kekayaan budaya di
Indonesia sangatlah beragam jenisnya. Menurut Ki Hajar Dewantara, budaya
berasal dari budi (cipta, rasa karsa) jiwa manusia yang telah matang, cerdas. Sedangkan
menurut Koentjaraningrat budaya berasal dari kata buddhayah (sanskerta) bentuk
jamak dari buddhi “budi/akal”. Budaya adalah tradisi yang dilakukan secara
turun temurun dari nenek moyang terdahulu hingga sekarang. Tradisi budaya disetiap
daerah berbeda- beda. Dusun Geden memiliki banyak tradisi kebudayaan seperti tradisi sebelum
kelahiran, sesudah kelahiran, sesudah kematian, membangun rumah, suran, wiwitan,
muludan dan sebagainya. Tradisi-tradisi tersebut masih dilakukan oleh
masyarakat Dusun Geden.
Tradisi wiwitan ini
sangat menarik dan jarang ditemui di desa – desa lainnya. Tradisi wiwitan merupakan salah satu ritul slametan di Jawa. Pada awalnya digunakan
untuk persembahan kepada Tuhan dan Dewi Sri sebagai wujud rasa syukur
masyarakat terhadap hasil panen yang telah diberikan. Sebelum melakukan tradisi
wiwitan disiapkan beberapa ubarampe atau perlengkapan yang
digunakan saat tradisi wiwitan. Ubarampe yang
digunkan berupa ron dadap serep, ron tebu, bunga mawar, bunga kantil, bunga
kenanga, menyan/dupa, sego wiwit, kendi dan besek. Semua ubarampe tersebut mempunyai makna atau arti tersendiri. Dahulu
tradisi wiwitan hanya dilakukan
secara sederhana oleh petani di Dusun Geden. Namun, seiring berjalannya waktu,
tradisi wiwitan menjadi meriah dengan
ditambah hiburan kesenian yang ada di Dusun Geden. Sehingga membuat semua
warga, baik warga Geden dan sekitarnya ikut berpartisipasi dalam tradisi ini.
Berdasarkan hal tersebut,
tujuan dari penulisan artikel ini untuk
mengetahui bagaimana pelaksanaan tradisi wiwitan
yang ada di Geden Sidorejo Lendah Kulon Progo yang masih dilakukan hingga saat
ini.
PEMBAHASAN
Tradisi kebudayaan di Dusun Geden
adalah wiwitan. Wiwitan adalah ritual prsembahan tradisional masyarakat sebelum
panen padi dilakukan. Tujuan pelaksanaan ritual ini adalah sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan atas panen padi yang melimpah dan rejeki untuk yang
akan datang. Kata “wiwitan” yang
berarti “mulai”, jadi memulai memotong padi sebelum panen dilakukan. Wiwitan dalam bahasa Indonesia berarti mulai, mula-mula (Purwadi, 2006:
367). Secara umum wiwitan merupakan salah satu ritus slametan di Jawa yang awalnya
digunakan untuk persembahan kepada Dewi Sri sebagai wujud rasa syukur
masyarakat terhadap hasil panen yang telah diberikan (Endraswara, 2012: 100).
Tradisi wiwitan ini sudah ada sejak
nenek moyang dahulu dan dilestarikan sampai saat ini. Tradisi wiwitan sangat erat dengan interaksi
sosial yang dimana ada hubungan saling
membutuhkan antara petani dan masyarakat sekitar, sehingga mempererat tali
persaudaraan diantaranya.
Tradisi
kebudayaan wiwitan di Dusun Geden
sudah berlangsung 8 tahun yang dilaksanakan satu tahun sekali. Tahun ini
mengadakan tradisi wiwitan pada hari
Minggu, 22 April 2019 di dekat persawahan yang diikuti semua warga masyarakat
Geden. Arakan tradisi wiwitan ini
dibagi menjadi enam kelompok yang membawa gunungan, diantaranya RT 44, RT 45,
RT 46 dan RT 47 membawa gunungan berupa sayur – sayuran dan buah – buahan
Sedangkan kelompok tani membawa gunungan berupa padi dan membawa nasi tumpeng
dengan lauk sambel gepeng dari kacang hitam yang di tumbuk halus, ikan asin,
telur rebus, dan ingkung.
Gunungan tersebuat kemudian diarak
mengelilingi Dusun Geden. Arakan tersebut diikuti oleh semua warga masyarakat
Geden dengan memakai baju adat Jawa tradisional, bahkan turis asing pun ikut
memeriahkan acara tersebut dan juga memakai baju adat Jawa tradisional. Sesampainya di lokasi wiwitan disambut dengan kesenian
karawitan, drumband, tari gambyong, dolanan anak, rodatan, dan sholawatan.
Acara wiwitan di buka dengan beberapa
sambutan, potong tumpeng dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” kemudian
diadakan pembacaan doa oleh mbah kaum atau orang yang tertua menuju persawahan
dengan membawa ubarampe yang
diletakkan di sawah. Ubarampe berupa daun
alang-alang, ron dadap serep, ron tebu, kendi, bunga mawar, bunga kantil, bunga kenanga, sego
wiwit, menyan/dupa, pisang raja, dan besek, yang memiliki makna atau lambang tersendiri,
lalu dilanjutkannya memotong sebagian padi dengan menggunakan ani – ani sebagai tanda padi sudah siap
dipanen.
Makna dari ubarampe tradisi wiwitan yaitu:
- Daun alang – alang, mempunyai makna supaya tidak ada yang menghalangi pada saat panen tiba. Seperti padi dimakan hama.
- Daun dadap serep, mempunyai makna agar dingin pikirannya sehingga adem ayem hidupnya. Dahulu daun dadap serep sebagai pilis pereda panas.
- Ron tebu atau daun tebu, mempunyai makna mantep ing kalbu. Yakin dengan agama yang di anut (Islam) sebagai agama yang dianggap paling benar sehingga tidak goyah untuk pindah agama.
- Bunga mawar, mempunyai makna werno-werno dalam bahasa Indonesia yang artinya bermacam – macam. Kita hidup di dunia bermacam – macam atau beragam seperti agama, suku, bahasa, adat istiadat dan lain sebgainya.
- Bunga kantil, mempunyai makna kita harus selalu ingat kepada Tuhan.
- Bunga kenanga, mempunyai makna kita hidup di dunia harus bisa beradaptasi di setiap tempat
- Pisang raja, ini harus setangkep atau satu pasang yang besar. Hal ini mempunyai makna saat kita berdoa kepada Tuhan sungguh-sungguh agar doanya di kabulkan.
- Menyan atau dupa. “dupa” dudu apa-apa yang artinya di dunia itu bukan siapa – siapa walaupun kita kaya mempunyai pangkat, namun hadapan Tuhan yang paling dilihat adalah ke Imanan kita. Kaya dan pangkat tidak dibawa mati.
- Kendi isi air digunakan untuk menyiram padi saat tradisi wiwitan.
- Nasi putih. Mempunyai tujuan yang sesuai wujud syukur supaya segala permohonan warga dapat dikabulkan.
- Telur. Dalam penyajiannya tidak dipotong-potong sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal ini melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan sasuai rencana.
- Ingkung, mempunyai makna tunduk atau pasrah kepada Yang Maha Kuasa.
- Besek, digunakan untuk tempat sesaji perlengkapan dalam tradisi wiwit padi.
- Sambel gepeng,
Setelah
ritual itu selesai dilakukan, selanjutnya diadakan rebutan gunungan. Maksud
dari rebutan gunungan adalah gunungan yang direbut beramai-ramai oleh penonton
atau warga lainnya kecuali warga Dusun Geden. Partisipasi dan kerukunan
masyarakat Geden dan sekitarnya sangat besar. Acara wiwitan ini di liput di stasiun TV yaitu TVRI dan JogjaTV dan media
cetak.
Para
tamu undangan juga disuguhi snack palawija antara lain, ketela pohon, sejenis
ubi, jagung, kacang tanah, pisang, tempe benguk, dan wajik. Makanan yang
menjadi ciri khas dari wiwitan yang
berupa nasi putih lauk sambel gepeng, ikan asin, telur rebus dan ingkung
dibagikan kepada seluruh tamu undangan dan penonton dengan menggunakan wadah
daun pisang yang dibentuk seperti mangkuk yang masyarakat pada umumnya menamai
takir. Acara wiwitan ditutup dengan
menampilkan kesenian Reog dari Krebet Budaya Geden
Nilai
budaya yang terkandung dalam tradisi wiwitan
adalah kita sebagai manusia harus bersyukur atas nikamat yang diberikan
Allah SWT di dunia. Sesama manusia yang lain saling silaturahmi sehingga
menambah erat persaudaraan dan menambah rezeki. Sesama manusia yang lain harus
saling tolong menolong.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tradisi wiwitan merupakan ritual prsembahan tradisional masyarakat sebelum
panen padi dilakukan. Tujuan pelaksanaan ritual ini adalah sebagai ungkapan
rasa syukur kepada Tuhan dan Dewi Sri atas panen padi yang melimpah dan rejeki
untuk yang akan datang. Tradisi ini
diadakan di desa Geden Sidorejo Lendah Kulon Progo dengan menggunakan pakaian
tradisional adat Jawa. Ubarampe
berupa alang-alang, daun dadap serep, ron tebu, bunga mawar, kantil, kenanga, sego
wiwit, menyan/dupa, besek dan kendi yang memiliki makna atau lambang
tersendiri, lalu dilanjutkannya memotong sebagian padi sebagai tanda padi sudah
siap dipanen. Puncak dari acara tersebut adalah rebutan gunungan yang diikuti
oleh penonton yang datang melihat acara tersebut.
B.
Saran
Saran untuk Dusun Geden adalah
tetap menjaga dan melestarikan budaya
atau tradisi wiwitan agar anak cucu
dapat mengetahui tradisi sehingga tidak punah ditelan zaman yang modern ini.
Saran untuk pembaca adalah agar
mengetahui tradisi wiwitan yang ada di Dusun Geden. Selain itu juga dapat
dijadikan pengetahuan tentang tradisi dan budaya. Sehingga menambah pengetahuan
tentang tradisi wiwitan yang ada di
Dusun Geden.
Sumber :
Observasi/pengamatan langsung serta ikut
dalam berpartisipasi dalam tradisi wiwitan.
Wawancara langsung dengan Bapak Waluya
Jati sesudah tradisi wiwitan dilaksanakan
Referensi
Endraswara,
S. (2012)Memayu
Hayuning Buwana.
Yogyakarta: Ampera Utama
Purwadi.(2012).
Ensiklopedi Adat-Istiadat Budaya Jawa.
Yogyakarta: Pura Pustaka Yogyakarta
LAMPIRAN


Komentar
Posting Komentar