“Tradisi Rasulan Setelah Musim Panen di Dusun Sayangan Desa Bandung Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul”
“TRADISI RASULAN
SETELAH MUSIM PANEN DI DUSUN SAYANGAN DESA BANDUNG KECAMATAN PLAYEN KABUPATEN
GUNUNGKIDUL”
Oleh: Meylinda Puspita Sari
(2016015341/6F)
ABSTRAK
Rasulan atau yang sering disebut bersih
dusun adalah salah satu tradisi yang masih ada hingga saat ini di daerah
Gunungkidul. Rasulan ini dilakukan setiap satu tahun sekali. Tradisi rasulan
ini biasanya dilaksanakan setelah datangnya masa panen padi dan masa panen
palawija yaitu sekitar bulan Agustus. Rasulan merupakan bentuk rasa syukur petani
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan nikmat yang begitu luar
biasa kepada para petani melalui hasil pertanian yang melimpah pada masyarakat
di Dusun Sayangan, Bandung, Playen, Gunungkidul. Para petani juga berharap agar
hasil panen pada masa mendatang mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dan
lebih banyak lagi. Di Dusun Sayangan, Bandung, Playen, Gunungkidul acara
rasulan di adakan dalam dua tahap. Tahap pertama diadakan pada pagi hari yaitu
kenduri pagi. Tahap kedua diadakan pada sore hari yaitu kenduri sore. Pada
kenduri pagi biasanya yang dilibatkan adalah bapak-bapak dan tokoh adat di dusun
sedangkan, pada kenduri sore semua warga dilibatkan untuk mengikuti acara.
Pengambilan data dalam penelitian ini melalui teknik observasi pada saat
pelaksanaan tradisi rasulan dan wawancara pada warga masyarakat sekitar.
Kata Kunci: Tradisi, Panen, Rasulan
PENDAHULUAN
Masyarakat di Indonesia hidup tidak
lepas dari sesuatu yang dinamakan budaya karena masyarakat Indonesia merupakan
salah satu makhluk berbudaya. Menurut Koentjaraningrat "budaya berasal
dari kata buddhayah (Sanskerta) bentuk jamak dari buddhi ‘budi/akal’. Keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan
meliputi gagasan, cara berpikir, yang menghasilkan norma-norma, adat-istiadat,
dan hukum yang merupakan pedoman tingkah laku dalam masyarakat. Sedangkan
menurut Ki Hadjar Dewantara: “budaya berasal dari budi jiwa manusia yang telah
matang dan cerdas”. Budi jiwa manusia tercipta dari cipta, rasa, dan karsa
manusia. Cipta adalah buah pikiran, ilmu pengetahuan, filsafat pendidikan dan
pengajaran. Rasa adalah buah perasaan, sifat keindahan, keluhuran batin,
kesenian, adat istiadat, keadilan. Sedangkan karsa adalah buah kemauan dari
semua sifat perbuatan dan buatan manusia.
Kebudayaan memiliki fungsi yang sangat
banyak bagi masyarakat. Kebudayaan dapat menjadikan ciri khas dari suatu
masyarakat di suatu daerah dan kebudayaan juga dapat menjadi suatu pembeda
antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Terkadang
kebudayaan juga dapat dijadikan sebagai daya tarik tersendiri kepada warga dari
daerah lain atau wisatawan untuk dapat berkunjung ke daerah tersebut.
Kebudayaan juga dapat menjadi cerminan kehidupan manusia, jika suatu masyarakat
memegang teguh kebudayaannya maka akan tercipta kehidupan yang harmonis antar
masyarakat.
Salah satu kebudayaan yang masih ada
hingga saat ini dan masih menjadi tradisi khususnya di Kabupaten Gunungkidul adalah
rasulan. Tradisi rasulan atau bersih dusun adalah tradisi yang dilakukan dengan tujuan sebagai
rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan nikmatnya
berupa hasil panen yang banyak kepada para petani. Rasulan atau bersih dusun
ini dilakukan setiap setahun sekali setelah masa panen padi dan masa panen
palawija datang. Biasanya rasulan diadakan pada pertengahan bulan Agaustus. Tradisi
rasulan ini biasanya diadakan secara massal di seluruh desa atau dusun
khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Walaupun sudah memasuki zaman modern tapi
masyarakat masih menjadikan rasulan sebagai salah satu tradisi yang
pelaksanaannya masih terus dilaksanakan setiap satu tahun sekali sampai
sekarang ini.
Tujuan penulisan artikel ini adalah
untuk mengetahui bagaimanakah pelaksanaan tradisi rasulan yang masih ada hingga
saat ini di Kabupaten Gunungkidul khususnya di Dusun Sayangan, Desa Bandung, Kecamatan
Playen. Selain itu tujuan penulisan artikel ini juga untuk mengetahui apakah
seluruh masyarakat di Dusun Sayangan dapat melestarikan dan mempertahankan
tradisi rasulan yang sudah ada sejak zaman para leluhur tersebut atau tidak.
PEMBAHASAN
Dusun Sayangan adalah salah satu Dusun
yang terletak di Desa Bandung, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Dusun
Sayangan terbagi menjadi 5 (lima) RT (Rukun Tetangga) dan mayoritas penduduk di
Dusun Sayangan bermata pencaharian sebagai petani. Lahan pertanian yang
terdapat di Dusun Sayangan juga dapat dikatakan
termasuk ke dalam lahan pertanian yang sangat luas selain itu Dusun
Sayangan juga memiliki sumber mata air untuk menunjang pertanian para
penduduknya yaitu sumur bor. Padi,
jagung, kedelai, kacang, dan singkong merupakan andalan hasil tani warga di Dusun
Sayangan di setiap musim panennya.
Rasa
syukur para warga masyarakat di Dusun Sayangan terlihat dengan jelas dari
kesungguhan penduduk mensyukuri hasil panen yang telah mereka dapatkan melalui
tradisi rasulan. Tradisi rasulan ini adalah salah satu tradisi yang masih ada
hingga saat ini di Dusun Sayangan. Tradisi rasulan juga masih sangat
dipertahankan oleh seluruh warga di Kabupaten Gunungkidul. Rasulan juga menjadi
tradisi yang perayaannya selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh warga khususnya di
Dusun Sayangan. Kemeriahan dari warga terpancar sangat jelas dari penyambutan
oleh warga masyarakat khususnya para pemuda yang melakukan lomba-lomba sebelum
datangnya rasulan contohnya lomba voli.
Rasulan
atau yang sering disebut dengan bersih dusun adalah salah satu tradisi yang
dilakukan pada saat setelah musim panen tiba. Biasanya pelaksanaan rasulan ini
adalah setelah musim panen padi dan setelah musim panen palawija yaitu sekitar
bulan Agustus. Tradisi rasulan ini masih
ada hingga saat ini khususnya di Dusun Sayangan, Desa Bandung, Kecamatan Playen,
Kabupaten Gunungkidul. Rasulan merupakan bentuk rasa syukur petani kepada Tuhan
Yang Maha Esa karena telah memberikan nikmat yang begitu luar biasa kepada para
petani melalui hasil pertanian yang melimpah pada masyarakat. Para petani juga
berharap agar hasil panen pada masa mendatang mendapatkan hasil yang lebih baik
lagi dan lebih banyak lagi.
Beberapa
bulan sebelum pelaksanaan rasulan, biasanya tokoh-tokoh masyarakat berkumpul
untuk bermusyawarah tentang bagaimana pelaksanaan rasulan dan acara apa saja
yang akan di adakan menurut kemampuan warga masyarakat. Biasanya di Dusun
Sayangan acara yang di adakan sebelum rasulan adalah lomba-lomba antar RT,
seperti lomba bola voli. Selain itu untuk acara penyambutan rasul ini juga
terkadang masyarakat Sayangan mengundang warga dari dusun di sekitar Dusun
Sayangan untuk ikut serta dalam pelaksanaan lomba bola voli. Para remaja di Dusun
Sayangan juga mengadakan lomba untuk anak kecil dalam rangka penyambutan tradisi
rasulan ini. Lomba-lomba yang biasanya dilaksanakan untuk anak-anak di Dusun
Sayangan biasanya dijadikan satu dengan acara lomba untuk memperingati acara 17
Agustusan, karena pelaksanaan rasulan di Dusun Sayangan biasanya dilaksanakan
pada bulan Agustus. Lomba-lomba tersebut antara lain pukul air, balap karung,
lari kelereng, gobak sodor, makan kerupuk dan lomba permainan tradisional
lainnya.
Pada intinya tradisi rasulan diadakan
dalam tiga acara pokok yaitu kenduri pagi, kenduri sore, dan kesenian puncak.
Kenduri pagi atau yang sering disebut kirim
dongo dilaksanakan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB. Acara kenduri
pagi ini khusus diikuti oleh bapak-bapak dan tokoh agama serta perangkat desa
di Dusun Sayangan. Pada acara kenduri pagi ini bapak-bapak beramai-ramai datang
ke balai dusun dengan membawa makanan sedekah yang dibawa dari rumah. Masakan
yang biasanya dibawa bapak-bapak untuk acara kenduri pagi antara lain nasi putih
dengan lauk pauk seperti sambal goreng, mie, tumis kecambah atau tumis buncis, sayur
lombok, tempe atau tahu goreng dan rempeyek. Untuk acara kenduri pagi
bapak-bapak membawa masakan dari rumah dengan menggunakan nampan atau baskom.
Setelah seluruh bapak-bapak di Dusun
Sayangan sudah berkumpul, ketua panitia mempersilakan tokoh agama di Dusun
Sayangan untuk mengikrarkan maksud dan tujuan diadakannya kenduri pagi ini.
Inti ikhtiar yang dilakukan oleh tokoh agama tadi adalah doa dan rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas diberikannya rahmat, kesehatan, panen yang
melimpah, serta diberikannya kerukunan, kedamaian, dan kesejahteraan antar
warga masyarakat khususnya di Dusun Sayangan. Setelah itu tokoh agama mengajak
seluruh bapak-bapak yang hadir untuk berdoa bersama, kemudian tokoh agama memimpin
doa pada kenduri pagi. Selanjutnya acara setelah doa bersama pada kenduri pagi
selesai para bapak-bapak yang hadir saling mencicipi masakan yang dibawa
masing-masing dan juga makan bersama di balai. Setelah acara kenduri pagi
selesai kemudian para bapak-bapak yang hadir pada kenduri pagi pulang ke rumah
masing-masing.
Ibu-ibu yang berada di rumah setelah
menyiapkan makanan yang dibawa untuk kenduri pagi kemudian menyiapkan masakan
yang akan di bawa untuk acara pada sore harinya yaitu kenduri sore. Makanan yang biasanya di bawa untuk acara kenduri sore
adalah nasi uduk (sego wuduk), ayam
ingkung, trancam, rawisan, rempeyek, tempe dan tahu bacem, sambal goreng, dan
mie. Masakan yang telah di masak oleh ibu-ibu ini ketika akan di bawa ke balai
dusun biasanya dimasukkan ke dalam bakul atau tenggok.
Gambar 1. Bakul
atau tenggok
Sama dengan acara kenduri pagi,
pelaksanaan acara kenduri sore atau yang sering di sebut weton sore juga dilaksanakan di balai Dusun Sayangan. Hal yang
membuat tradisi rasulan ini terlihat meriah, ramai, dan rukun adalah pada saat pelaksanaan
kenduri sore. Saat kenduri sore ini di hadiri oleh seluruh warga masyarakat di
Dusun Sayangan, baik itu bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, dan anak-anak bahkan terkadang
warga dusun lain yang memiliki rumah berdekatan dengan Dusun Sayangan ikut di
undang dalam acara kenduri sore ini. Acara kenduri sore biasanya dimulai pada
pukul 15.30 WIB tetapi seluruh warga masyarakat Dusun Sayangan sudah datang ke
balai dusun pukul 13.00 WIB. Selain membawa bakul atau tenggok untuk tempat membawa makanan, seluruh masyarakat di Dusun
Sayangan membawa sarang. Sarang adalah
daun kelapa yang di anyam yang digunakan sebagai tempat untuk makanan hasil
pembagian pada saat kenduri sore. Ketika masyarakat sudah sampai di balai
dusun, bakul atau tenggok yang dibawa
dengan isi berbagai makanan untuk kenduri sore tersebut dikumpulkan pada
panitia rasulan untuk nantinya dibagikan pada seluruh masyarakat yang datang ke
balai dusun untuk menghadiri kenduri sore.
Gambar 2. Sarang
Setelah seluruh masyarakat di sudah
berkumpul di balai dusun, acara kenduri sore atau weton sore dimulai. Acara kenduri sore dimulai dengan pembukaan
oleh panitia, kemudian dilanjutkan sambutan oleh bapak dukuh dan bapak lurah. Sebenarnya
acara pada saat kenduri pagi dan kenduri sore intinya adalah sama yaitu rasa
syukur dan kirim doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara kirim doa ini juga
dipimpin oleh salah satu tokoh agama di Dusun Sayangan. Doa yang dikirimkan oleh
seluruh masyarakat di Dusun Sayangan adalah doa agar seluruh masyarakat di
Dusun Sayangan dapat hidup berdampingan dengan damai, tentram, dan saling
mengasihi satu sama lainnya. Sedangkan rasa syukur yang dikirimkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa adalah rasa syukur atas diberikannya panen yang melimpah kepada
seluruh masyarakat di Dusun Sayangan dan seluruh warga masyarakat juga berharap
agar hasil panen pada musim panen selanjutnya semakin baik.
Kemudian setelah acara kirim doa
selesai, panitia rasulan membagikan makanan yang tadinya dikumpulkan dan dibawa
oleh seluruh masyarakat Dusun Sayangan. Masyarakat yang lain kemudian membuka sarang yang dibawa masing-masing. Sarang yang dibuka tersebut diisi oleh
berbagai macam makanan khas kenduri sore yang tadi dibawa oleh seluruh
masyarakat. Pembagian makanan tersebut dilakukan secara adil dan merata oleh
panitia kepada seluruh masyarakat yang datang pada acara kenduri sore. Biasanya
acara kenduri sore atau weton sore ini
berlangsung sampai pukul 17.00 WIB. Setelah semua sarang yang dibawa oleh masyarakat yang datang sudah terisi dengan
lengkap, acara kenduri sore ditutup dengan doa bersama.
Gambar 3. Gambar
sarang yang telah diisi makanan
Untuk acara puncaknya yaitu acara pada
malam hari setelah acara kenduri pagi dan kenduri sore di masing-masing
padusunan yang ada di Desa Bandung selesai. Acara puncaknya yaitu kesenian puncak, biasanya kesenian yang ditampilkan adalah
kesenian tradisional. Tujuan dari diadakannya acara kesenian ini adalah sebagai
hiburan untuk seluruh warga. Kesenian yang ditampilkan untuk acara puncak pada tradisi
rasulan ini adalah pagelaran wayang kulit. Pagelaran wayang kulit ini biasanya
diadakan di balai Desa Bandung. Seluruh masyarakat Desa Bandung yang terdiri dari
8 padusunan boleh menontonnya secara gratis. Masyarakat yang berasal dari desa
lain juga diperbolehkan untuk menonton, karena pagelaran wayang kulit ini di
gelar secara umum. Pagelaran wayang kulit ini diadakan semalam suntuk.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Salah satu tradisi yang
masih dijaga hingga saat ini di Kabupaten Gunungkidul khususnya di Dusun
Sayangan, Desa Bandung, Kecamatan Playen adalah tradisi rasulan. Tradisi
rasulan adalah tradisi yang sudah ada sejak dahulu. Di Dusun Sayangan rasulan
dilaksanakan satu tahun sekali setelah musim panen padi dan musim panen
palawija selesai. Tradisi rasulan ini mempunyai tujuan sebagai rasa syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berkah berupa hasil panen
yang melimpah kepada seluruh petani di Dusun Sayangan.
Pada tradisi rasulan
terdapat tiga kegiatan inti yang dilakukan dalam satu hari. Kegiatan pertama
adalah kenduri pagi atau kirim dongo, acara
ini dilaksanakan di balai dusun pukul 07.00 WIB oleh bapak-bapak dan tokoh
agama. Setelah acara kenduri pagi selesai acara selanjutnya adalah acara
kenduri sore atau weton sore, acara
ini dihadiri oleh seluruh warga Dusun Sayangan dilaksanakan di balai dusun pada
pukul 13.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Acara yang terakhir adalah acara
kesenian puncak yang dilaksanakan di balai Desa Bandung yaitu pagelaran wayang
kulit.
B.
Saran
1.
Untuk Warga
Masyarakat Dusun Sayangan
Saran untuk warga masyarakat Dusun Sayangan adalah
supaya warga masyarakat tetap melestarikan tradisi rasulan yang sudah ada dan jangan
sampai tradisi rasulan ini hilang karena kemajuan zaman.
2.
Untuk Pembaca
Saran
untuk pembaca adalah agar pembaca juga dapat belajar dari warga masyarakat Dusun
Sayangan yang masih bisa melestarikan tradisi rasulan yang sudah ada sejak
zaman dahulu, bahkan dalam acara kenduri pagi maupun kenduri sore masih
menggunakan tenggok dan sarang.
SUMBER
Observasi atau pengamatan langsung dalam acara rasulan di Dusun Sayangan.
Wawancara
langsung dengan beberapa warga masyarakat di Dusun Sayangan yaitu
Bapak Suparman dan Ibu Suyatmi.
Candra Bagus Sultan Mixdam dan Nur Hidayah. 2015.
Sosialisasi Adat Rasulan di
Kalangan Anak-anak Pada Era Modernisasi di Daerah
Playen Gunungkidul.
Jurnal Pendidikan Sosiologi. 1-4.
Didik
Fathorrahman. 2006. Tradisi Rasulan (Bersih Dusun) di Desa Dengok Kec.
Playen Kab. Gunungkidul Yogyakarta (Studi Pertautan
Adat dan Hukum
Islam) [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
Sandra
Setiyawati. 2014. Tradisi Rasulan di Dusun Trowono A, Karangasem,
Paliyan, Gunungkidul: Sebuah Kajian Folklor
[skripsi]. Yogyakarta (ID):
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
LAMPIRAN
Gambar 1. Foto saat pelaksanaan
kenduri sore
Gambar 2. Bakul atau tenggok
Gambar 3. Daun Kelapa atau blarak untuk membuat sarang
Gambar 4. Sarang yang terbuka
Gambar 5. Sarang yang tertutup
Gambar 6. Sarang yang terisi makanan










Komentar
Posting Komentar