Tradisi Nyadran Sebagai Salah Satu Aktivitas Budaya Menjelang Bulan Ramadhan Di Desa Dayu Kelurahan Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul
TRADISI NYADRAN SEBAGAI SALAH SATU AKTIVITAS
BUDAYA MENJELANG BULAN RAMADHAN DI DESA DAYU KELURAHAN GADINGSARI KECAMATAN
SANDEN KABUPATEN BANTUL
Oleh: Farid Nur Irfan (2016015257)
Abstrak: Nyadran
adalah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat pada bulan ruwah atau
menjelang bulan ramadhan. Observasi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran
deskriptif mengenai tujuan diadakannya tradisi Nyadran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Desa Dayu Kelurahan
Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul. Selain itu juga untuk mengetahui
perlengkapan, nilai budaya dari prosesi tradisi Nyadran di Desa Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara. Instrumen yang
digunakan yaitu observasi langsung oleh penulis, dan hal lainnya seperti foto
dokumentasi, catatan tulis dan lain-lain. Hasil observasi menunjukkan bahwa
tujuan tradisi Nyadran dapat dilihat
dari tiga aspek yaitu sosial, ekonomi, religius, dan sosial budaya. Berdasarkan
hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tradisi Nyadran dari segi sosial ekonomi
pelaksanaan tradisi Nyadran tidak
memandang status ekonomi dan golongan serta menjalin silaturohmi antar warga,
dari segi religius tradisi Nyadran
merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah, mengingatkan akan kematian dan
mendoakan arwah leluhur atau keluarga. Tujuan pelaksanaan tradisi Nyadran dari segi sosial budaya
merupakan bentuk pelestarian budaya Jawa yaitu tradisi Nyadran itu sendiri.
Kata kunci: Tradisi, Nyadran, Aktivitas Budaya
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Indonesia adalah negara
yang terdiri dari berbagai pulau yang dihuni oleh berbagai macam suku bangsa.
Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki budaya, adat (tradisi) atau kebiasaan
yang berbeda-beda. Maka demikian, situasi dan kondisi lingkungan tempat dimana
mereka tinggal mempunyai peran yang baik untuk melahirkan ide-ide dalam proses
penciptaan suatu kebudayaan dan tradisi.
Dalam sejarah
perkembangan kebudayaan Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur
yang ada. Oleh karena itu, corak dan bentuknya diwarnai oleh berbagai unsur
budaya yang beraneka macam. Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda.
Hal ini dikarenakan oleh kondisi sosial budaya masyarakat antara yang satu
dengan lainnya berbeda. Kebudayaan sebagai cara berpikir dan cara merasa yang
menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan kelompok manusia yang membentuk
kesatuan sosial dalam ruang dan waktu. Salah satu budaya yang menonjol adalah
adat istiadat atau tradisi kejawen. Kebudayaan selalau memberikan sesuatu yang
berkhas, karena pada umumnya diartikan sebagai proses atau hasil karya, cipta,
rasa, dan karsa manusia dalam menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari
alam sekitarnya.
Upacara tradisi
merupakan salah satu bentuk realisasi wujud kebudayaan dalam masyarakat yang
hampir dimiliki setiap daerah. Upacara tradisi termasuk wujud kebudayaan yang
berupa suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
atau sering disebut sebagai sistem sosial. Sistem ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi dari waktu ke waktu dan
selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat kelakuan.
Masyarakat Jawa sangat
identik dengan berbagai macam upacara selamatan. Baik upacara selamatan dalam
pernikahan, kelahiran bayi, bahkan sampai upacara selamatan bagi seseorang yang
telah meninggal dunia. Berbagai tradisi selamatan ini tidak lepas dari ajaran
Hindu-Budha yang banyak berkembang pada zaman dahulu dan bertahan sampai
sekarang. Salah satu tradisi yang sampai saat ini dipertahankan oleh masyarakat
Jawa khususnya di Desa Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul ini adalah tradisi nyadran.
Tradisi Nyadran merupakan sebuah tradisi
selamatan peninggalan agama hindu dan budha yang diakulturasikan dengan nilai-nilai
Islam oleh Wali Sanga untuk menyebarkan agama Islam di masyarakat Jawa. Secara
filosofis Nyadran adalah ritual
simbolik yang sarat dengan makna. Menurut adat kejawen, sadranan berarti
berziarah ke kubur atau pergi ke makam nenek moyang dengan membawa kemenyan,
bungan dan air doa. Sebelum berziarah kubur biasanya masyarakat terlebih dahulu
membersihkan makam secara bersama-sama.
Dalam makna lain, kata
sandran berasal dari bahasa Arab yaitu sod’ru
berarti suatu doa yang ditujukan kepada leluhur yang sudah berada di alam kubur
atau yang sudah meninggal dunia. Kemudian kata tersebut dilafalkan oleh lidah
Jawa menjadi sadran/ nyadran.
B.
Tujuan
Observasi tentang
tradisi Nyadran ini dilakukan untuk
dapat mengetahui latar belakang dan perkembangan upacara tradisi nyadran di Desa Dayu, Gadingsari,
Sanden, Bantul. Kemudian untuk mengetahui proses/ tata cara ritual tradisi nyadran di Desa Dayu, Gadingsari,
Sanden, Bantul. Selain itu juga untuk mengetahui makna dan nilai filosofis yang
terkandung dalam upacara tradisi nyadran
di Desa Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul.
Sedangkan kegunaan
observasi ini dilakukan selain untuk menambah wawasan tentang tradisi yang
berkembang di Jawa, tetapi juga mengingatkan kembali bahwa masih banyak budaya
Indonesia yang masih terpendam dan layak untuk dikembangkan dan juga diharapkan
penulisan tersebut dapat diambil manfaat khususnya oleh pihak yang bersangkutan
dan masyarakat pada umumnya.
PEMBAHASAN
Tradisi Nyadran merupakan sebuah ritual yang berupa penghormatan kepada
arwah nenek moyang dan memanjatkan doa selamatan. Nyadaran bagi warga Dayu
dalam hal ini memiliki nilai moral sebagai wujud ungkapan rasa syukur,
permohonan agar terhindar dari bencana, dan wujud penghambaan. Dalam konsep
ini, maka dapat dipandang bahwa nyadran
merupakan sebuah asas kehidupan dihadirkan dalam diri individu dan kelompok.
Ritual nyadran di Desa Dayu ini dilaksanakan
untuk menunjukkan hubungan yang harmonis antara individu dengan leluhurnya atau
nenek moyangnya dan juga hubungan yang harmonis antara individu dengan Sang
Pencipta.
Pelaksanaan tradisi nyadran pada masa Hindu-Budha menggunakan puji-pujian dan sesaji
sebagai perlengkapan ritualnya sedangkan oleh walisongo diakulturasikan dengan
doa-doa dari Al-Quran. Dikarenakan pengaruh agama islam, makna nyadran mengalami pergeseran dari
sekedar berdoa kepada Tuhan menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan
kepada bulan Sya’ban atau nifsu Sya’ban. Ajaran agama Islam meyakini bahwa
bulan Sya’ban yang datang menjelang Ramadhan merupakan bulan pelaporan atas
amal perbuatan manusia. Oleh karena itu pelaksanaan nyadran atau ziarah kubur juga dimaksud sebagai sarana intropeksi
atau perenungan terhadap segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama satu
tahun dengan dilakukan pada waktu menjelang bulan Ramadhan.
Pelaksanaan tradisi nyadran pada umumnya yaitu
dengan melakukan bersih-bersih desa dan makam terlebih dahulu, tabur bunga,
malam tirakatan, kentongan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, melakukan kenduri,
makan bersama dan tak lupa diselipkan dengan membaca doa dan ayat-ayat yang ada
di Al-Quran pada malam tirakatan atau pelaksanaan tahlilan. Sebelumnya masyarakat
warga Dayu tersebut harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu
yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali
perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan
upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam
yang akan digunakan untuk memperingati nyadran
serta membuat panggung atau mendirikan terop (kalau di Desa Dayu ini
menggunakan terop), kemudian juga ada sarana komunikasi seperti audio speaker,
tikar sebagai alas, dan lain-lain.
Tahap pelaksanaan tradisi nyadran selain
melakukan bersih-bersih tempat yang digunakan untuk acara nyadran, ada juga tabur bungan. Dalam melaksanakan kegiatan
membersihkan desa dan makam ini memiliki arti agar memupuk rasa kebersamaan dan
mengasah rasa gotong royong masyarakat. Sedangkan dalam pelaksanaan tabur bungan
ini memiliki makna yang berarti sebagai peringatan kepada para leluhur yang
sudah mendahului, selanjutnya ada malam tirakatan, didalam hal ini memiliki
makna sebagai kesempatan untuk mendoakan para leluhur agar berada di sisi Tuhan
di tempat yang baik.
Kemudian kentongan, kentongan disini memiliki makna
untuk memanggil atau mengumpulkan masyarakat guna memulai acara nyadran tersebut, semakin banyak orang
yang ikut maka diharapkan doa yang dipanjatkan juga semakin banyak dan baik.
Dalam pelaksanaan nyadran di Desa Dayu ini dikhususkan hanya kepada kaum
laki-laki saja karena kaum perempuan disini memiliki peran untuk mempersiapkan
kenduri atau makanan pada saat acara nyadran
ini dilaksanakan. Selanjutnya ada pembacaan ayat suci Al-Qur’an atau
melakukan tahlilan, dalam hal ini memiliki arti untuk menjaga kesucian tradisi
upacara dan memberikan ketenanagan bagi pembacanya serta memanjatkan puji
syukur atas limpahan rahmat-Nya dan juga berdoa agar bisa meningkatkan derajat
masing-masing individu.
Kemudian
selain itu juga melakukan kenduri, hal ini memiliki maksud untuk menghargai
rasa syukur kepada Tuhan dan membagikan sedekah kepada orang lain. Kenduri ini
dibuat oleh kamu perempuan sebelum acara nyadran
ini dilaksanakan, jadi di suatu tempat (kalau di Desa Dayu dilaksanakan di
tepat perkumpulan senam ibu-ibu) di desa masing-masing untuk dikerjakan
bersama-sama oleh kaum perempuan. Selain
itu, ada pula aktivitas makan bersama setelah kenduri didoakan bersama, maksud
dari hal ini memiliki makna sebagai bentuk sedekah kepada orang lain, berbagi
kebahagiaan, dan saling bertoleransi. Setelah selesai acara apabila ada yang
tidak hadir maka panitia pelaksana akan membawakan kenduri pada warga yang
tidak hadir dan warga yang membutuhkan.
Nilai moral secara
vertikal berarti bahwa menjelaskan relasi yang harus dibina secara spiritual,
atas relasi harmonis antara manusia dengan Tuhan Sang Pencipta. Relasi kedua
tradisi nyadran adalah relasi
horizontal antara manusia dengan manusia. Karena pada umumnya dalam tradisi ini
pasti akan melibatkan Tuhan dan juga interaksi antara individu yang satu dengan
yang lainnya.
Sedangkan penerapan nilai-nilai tersebut dalam
tradisi nyadran di Desa Dayu, menurut
Noer (2015 dalam Anam 2017:82) antara lain sebagai berikut.
Pertama,
nilai gotong royong, dalam tradisi nyadran tersebut terlihat dalam
penyelanggaraan mulai dari awal persiapan hingga akhir acara dilaksanakan bersama-sama
oleh masyarakat. Mulai dari persiapan menghimpun dana untuk nyadran diadakan
iuran tiap rukun tetangga dalam satu bulan sekali, dan hasilnya digunakan
bersama-sama untuk acara nyadran dari awal, nanggap, hingga akhir. Para
pemuda desa dan orang tua saling bekerjasama untuk terselenggarakannya nyadran
dengan lancar dan baik.
Kedua,
nilai persatuan dan kesatuan yang tercermin pada saat pembagian sedekah makanan
dan makan bersama baik pada makam maupun di rumah masyarakat masing-masing.
Ketiga,
nilai
musyawarah yang ditunjukkan dalam tradisi nyadran diselenggarakan ketika
dibentuk panitia nyadran dan dilakukan musyawarah bersama antar warga
masyarakat. Musyawarah ini biasanya disebut dengan rembug warga.
Keempat,
nilai pengendalian sosial, dalam tradisi nyadran, yaitu masyarakat memberikan
ucapan sekaligus perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan dengan nyadran,
masyarakat mampu untuk mempertahankan dan menjaga tradisi leluhur.
Kelima,
nilai kearifan lokal yang ditunjukkan antara lain pada saat memberikan makanan
yang dibawa untuk diberikan kepada warga yang datang pada pagi hari Jumat
pahing. Dengan demikian tidak hanya masyarakat Desa Dayu saja yang menikmati nyadran,
namun semua masyarakat dan semua golongan dapat menikmati tradisi nyadran.
Makna dari tradisi nyadran dalam hal ini diantranya: 1) melestarikan warisan nenek moyang,
2) wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, 3) perwujudan sikap rukun, 4)
membangkitkan kedewasaan kehidupan beragama, 5) perwujudan sikap keseimbangan
kehidupan sosial.
PENUTUP
Kesimpulan
Tradisi Nyadran merupakan sebuah ritual yang berupa penghormatan kepada
arwah nenek moyang dan memanjatkan doa selamatan yang dilakukan saat menjelang
bulan Ramadhan. Nyadaran bagi warga Dayu dalam hal ini memiliki nilai moral
sebagai wujud ungkapan rasa syukur, permohonan agar terhindar dari bencana, dan
wujud penghambaan. Dalam konsep ini, maka dapat dipandang bahwa nyadran merupakan sebuah asas kehidupan
dihadirkan dalam diri individu dan kelompok. Ritual nyadran di Desa Dayu ini dilaksanakan untuk menunjukkan hubungan
yang harmonis antara individu dengan leluhurnya atau nenek moyangnya dan juga
hubungan yang harmonis antara individu dengan Sang Pencipta.
Pelaksanaan tradisi nyadran pada umumnya
yaitu dengan melakukan bersih-bersih desa dan makam terlebih dahulu, tabur
bunga, malam tirakatan, kentongan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, melakukan
kenduri, makan bersama dan tak lupa diselipkan dengan membaca doa dan ayat-ayat
yang ada di Al-Quran pada malam tirakatan atau pelaksanaan tahlilan.
Nilai moral secara
vertikal berarti bahwa menjelaskan relasi yang harus dibina secara spiritual,
atas relasi harmonis antara manusia dengan Tuhan Sang Pencipta. Relasi kedua
tradisi nyadran adalah relasi
horizontal antara manusia dengan manusia. Karena pada umumnya dalam tradisi ini
pasti akan melibatkan Tuhan dan juga interaksi antara individu yang satu dengan
yang lainnya.
Sedangkan penerapan nilai-nilai tersebut dalam
tradisi nyadran di Desa Dayu, menurut
Noer (2015 dalam Anam 2017:82) yaitu nilai gotong royong, nilai persatuan dan
kesatuan, nilai musyawarah, nilai pengendalian sosial, dan nilai kearifan
lokal.
Makna dari tradisi nyadran dalam hal ini diantranya: 1) melestarikan warisan nenek
moyang, 2) wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, 3) perwujudan sikap
rukun, 4) membangkitkan kedewasaan kehidupan beragama, 5) perwujudan sikap
keseimbangan kehidupan sosial.
Daftar
Pustaka
Anam,
C. (2017). Tradisi Sambatan dan Nyadranan. Ilmu Susastra Undip, 82.
Hakim, M. L.
(2015). Makna dan Nilai Filosofis dalam Tradisi Nyadran. Filsafat Agama,
87-89.
Mita Astria,
W. M. (n.d.). TRADISI NYADRAN DALAM MENJELANG BULAN RAMADHAN. FKIP Unila.
Muhammad
Arifin, S. I. (n.d.). Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadra di Tengah Arus
Modernisasi. Pendidikan Sosioantropologi, 2-3.
Lampiran




Komentar
Posting Komentar