Tradisi Nyadran kirim Doa kepada Leluhur di Dusun Panjang
Tradisi Nyadran kirim Doa kepada Leluhur di
Dusun Panjang
Wiwik Wiji Astuti
2016015141
Abstract
Tradisi
nyadran atau biasa masyarakat di
dusun Panjang menyebutnya dekahan Ruwah
adalah sebuah acara kirim doa atau slametan kepada para leluhur terdahlu yang
sudah meninggal dan dilaksanakan secara rutin satu tahun sekali tepatnya pada
bulan Ruwah menurut kalender Jawa. Penulisan artikel ini bertujuan untuk
mengetahui prosesi dari diadakannya tradisi nyadran
serta untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai keragaman tradisi di
Indonesia khususnya yang berada di Pulau Jawa. Metode pengumpulan data
dilakukan dengan wawancara langsung dan observasi lapangan. Tradisi nyadran yang dilakukan warga di dusun
Panjang dilakukan satu tahun sekali tepatnya pada bulan Ruwah. Tradisi ini
sudah berlangsung turun-temurun. Nyadran merupakan
acara kirim doa kepada para leluhur atau orang yang sudah meninggal. Meski
tradisi nyadran banyak dilakukan oleh
warga di dusun Panjang namun tidak terkecuali ada juga msayarakat yang tidak
melaksanakannya.
Kata kunci : Nyadran, Ruwah, dusun Panjang, tradisi.
Pendahuluan
Kebudayaan
dan adat yang ada di Indonesia beragam, salah satunya yang berada di pulau
Jawa. Kebudayaan dan radisi adat yang ada di Pulau Jawa sangatlah banyak hal
ini dipengaruhi setiap tempat di jawa juga memiliki tradisi tersendiri. Seperti
halnya di dusun panjang , terdapat tradisi nyadran atau biasa masayrakat desa
menyebutnya dekahan ruwah yang sudah sejak zaman dahulu hingga sekarang
dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini dilakukan seluruh warga di dusun
Panjang. Kebudayaan ini termasuk unik sebab tidak semua tempat melaksanakan
tradisi ini, banyak juga masyarakat yang sudah tidak melakukan tradisi ini.
Tradisi nyadran di Dusun Panjang
dilaksanakan di kuburan hal ini dimasudkan untuk mengirim doa kepada orang-orang
yang sudah meninggal. Masyarakat di Dusun Panjang masih memegang dan
melestarikan tradisi nyadran ini, sebab mereka mempercayai bahwa orang yang
masih hidup memiliki tanggung jawab untuk mengirim doa kepada orang yang sudah
meninggal atau roh-roh para leluhur.
Tujuan
dari diadakannya tradisi nyadran adalah untuk mengirimkan doa-doa kepada para
leluhur agar leluhur atau orang yang sudah menginggal mendapatkan ketenangan
dialamnya karena mendapatakan perhatian dari orang yang masih hidup terlebih
lagi tradisi nyadran dilaksanakan sebelum menyambut bulan suci ramadahan
sebagai bentuk pembersihan hati untuk menyambut bulan yang suci.
Pembahasan
a. Sejarah
tradisi nyadran
Tradisi nyadran telah ada sejak zaman
Hindu-Budha. Tradisi ini konon memiliki kesamaan dengan tradisi pada masa
Majapahit yakni tradisi craddha.
Tradisi craddha dan tradisi nyadran memiliki kesamaan dalam hubungan
antara orang yang sudah meninggal atau roh-roh para leluhur dengan manusia yang
masih hidup. Tradisi nyadran bermula sebelum ajaran agama Islam masuk. Namun
ketika jaran agama Islam masuk tradisi nyadran sedikit bertentangan dengan
ajaran agama Islam dikarenakan Tradisi nydran
adalah sebuah penghormatan kepada para leluhur dengan menggunakan puji-pujian
serta sesaji dan tentu ini dianggap musrik. Kemudian untuk menyebarkan ajaran
agama Islam Walisongo menggabungkan atau mengalkulurasikan kebudayaan dan agama
dalam tradisi nyadran dengan
menambahkan nuasa ajaran agama Islam yaitu dengan mengganti puji-pijian dalam
tradisi nyadran menjadi doa-doa dari
ayat-ayat Al-Quran. Tradis nyadran juga bisa disebut dengan ziarah kubur sebab
pada pelaksanaannya kebudayaan nydran diakukan
di kuburan.
b. Prosesi
nyadran
Tradis nyadran atau masyarakat dusun panjang
menyebutnya dekahan Ruwah yang
diadakan di dusun Panjan guna menyambut bulan suci ramadahan. Mengapa
masyarakat sekitar mengatakan dekahan Ruwah sebab masyarakat sekitar mengatakan
bahwa itu merupakan acara kirim doa kepada para lelhur dengan membawa makanan. Tradisi
ini dilaksanakan pada pertengahan Ruwah lebih tepatnya tanggal 20 menurut
tanggalan Jawa dan tanggalan di setiap desa masing-masing sebab di beberapa
desa terkadang berbeda pelaksanaan tradisi nyadran
ini.
Prosesi
ketika berdoa
Sebelum diadakannya nyadran pada tanggal 20 Ruwah terlebih
dahulu diadakan khataman Al-Quran, setelah diadakan Khataman Al-Quran barulah
kegiatan nyadran dilaksanakan. Ketika
kegiatan nyadran hendak dilaksanakan
warga di setiap rumah terlebih dahulu memasak makanan untuk nyadran yang terdiri dari nasi, sambal
tempe, tahu dan tempe bacem, mie, sayur rambak, ikan pindang, boleh ditambah
ayam jika ada namun tidak terpatok untuk diberi ayam ataupun ikan isinya bisa
disesuikan dengan kemampuan masing-masing rumah warga ditambah lagi ada peyek
dari kedelai. Kemudian makanan tersebut diletakkan ditempat yang sudah
disediakan. Setelah warga di setiap rumah-rumah memasak kemudian makanan yang
sudah dimasak dibawa ke kuburan untuk didoakan, yang mendoakan makanan adalah
seorang yang mahir dalam agama. Doa dubuka dengan membaca surat yasin
bersama-sama dan kemudian dilanjutkan dengan tahlilan lalu terakhir dibacakan
untuk doa-doa kepada orang-orang yang sudah meninggal. Setelah berdoa maka
makanan bisa dibawa pulang untuk disantap keluarga. Adapun keunikan dari
dekahan di dusun panjang yakni orang-orang yang mendoakan acara tradisi nyadran di kuburan adalah adalah para
laki-laki sebab acara nyadran ini seperti kenduri orang meninggal jadi ketika
kenduri orang meninggal yang mendoakan adalah laki-laki sedangkan untuk
perempuannya hanya bertugas mengantarkan makanan untuk di doakan. Satu keunikan
lainnya yaitu di dusun panjang meski mayirotas masyarakat mengikuti tradisi nyadran ini ada juga beberpa warga yang
memilih untuk tidak mengikuti acara nyadran
ini sebab berkaitan dengan kesibukan dan keyakinan yang dimilikinya. Untuk yang
tidak mengikuti acara nyadran maka diberikan atau diwarisi makanan yang
diambilkan dari beberapa tempat yang dibawa warga untuk didoakan.
Prosesi
ketika mengambilkan makanan yang dibawa warga untuk diwariskan kepada warga
yang tidak mengikuti acara nyadran
Tradisi
nyadran pada bulan Ruwah tepatnya
tanggal 20 ini biasa disebut juga dengan ziarah makam sebelum bulan puasa.
Tradisi pada pertengahan bulan Ruwahan ini sudah diadakan sejak turun temurun.
Setelah diadakannya dekahan pada tanggal 20 Ruwah maka setelah berselang lima
hari akan dilanjutkan dekahan apem, lebih tepatnya pada tanggal 25 Ruwah. Dekahan apem hampir mirip dengan dekahan
pada tanggal 20 Ruwah hanya yang berbeda makannya diganti dengan kue apem yang
terbuat dari tepung beras, kelapa dan air lalu dicetak-cetak dengan cetakan
khusu berbentuk bulat-bulat.
c.
Makna atau filosofis
dari tradisi nyadran
Nyadran
ada yang mengatakan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sraddha yang memiliki arti “keyakinan”. Adapun berasal dari bahasa
Jawa sadran sama dengan bulan Ruwah,
Syakban. Ada juga yang dimaknai dengan kata sudra
dengan arti “orang awam” dan menyudra
memiliki arti berkumpul dengan orang awam yang akan mengingatkan kita
dengan hakekat atau arti bahwa manusia itu sama.
Sementara menurut
pendapat lain mengatakan bahwa nyadran itu
berasal dari bahasa Arab yaitu shodrun
yang memiliki arti “Dada” atau “Hati” yang memiliki arti bahwa tradisi nyadran dilakukan untuk membersihkan
atau menata diri agar siap secara hati dan fisik untuk menghadapi bulan yang
agung bulan suci ramadhan sebab acara nyadran
biasanya dilakukan ketika hendak menyambut buan suci ramdhan.
Lain halnya menurut
warga sekitar tradisi nyadran adalan
acara kirim doa atau bisa disebut dekahan
ruwah atau bisa juga disebut ziarah makam adalah memberikan doa kepada roh-roh
leluhur atau orang yang sudah meninggal guna membersihkan atau meringankan
segala dosa yang pernah dibuat semasa hidup. Dengan dikirimkannya doa-doa maka
roh-roh para leluhur atau orang yang sudah menggal dunia dapat hidup dengan
tenang dan merasa senang sebab orang yang masih hidup mengingatnya. Acara nyadran ini juga berguna sebagai sarana
untuk mengingatkan manusia atau orang-orang yang masih hidup akan kematian juga
sebagai sarana membersihkan diri untuk menyambut bulan suci ramadhan.
d. Nilai-nilai
yang terkandung dalam tradisi nyadran
Nilai sosial yang
tersirat dalam tradisi nyadran adalah mempererat tali persaudaraan dimana
ketika dalam acara nyadran ini tidak
dibedakan antara kaya dan miskin semua masyarakat membaur membawa makanan sesai
dengan kemampuan dari masing-masing rumah.
Nilai religius yang
terdapat di dalam tradisi nyadran yaitu
mendoaka arwah para leluhur atau orang yang sudah meninggal terdapat didalam
ayat Al-Quran guna meringankan beban di alamnya Jika sudah meninggal perlu
dikirim doa untuk meringankan segala dosa yang dulu pernah dipikul selama di
dunia. Serta sebagai wujud rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yaitu
dengan membewa makanan semampunya untuk didoakan.
Nilai pendidikan dari
acara tradisi nydran adalah kita
dapat memberikan edukasi kepada anak-anak bahwa hubungan antara orang-orang
yang sudah meningga dengan orang-orang yang masih hidup tidak akan terputus
sehingga kita perlu mengirimkan doa kepada yang sudah meninggal atau dengan
ziarah kubur.
Penutup
Kesimpulan dari artikel
ini adalah tradisi nyadran telah ada
sejak zaman Hindu-Budha. Kemudian masuknya agama Islam memberi pengaruh berupa
digantinya puji-pujian dengan doa-doa yang sesui dengan ayat Al-Quran. Prosesi
tradisi nyadran yaitu dimulai dengan khatam
Al-Quran kemudian memasak makanan untuk dibawa ke kuburan dan didoakan bersama
selanjutnya dibawa pulang kerumah untuk disantap keluarga. Makna dan
nilai-nilai yang terkandung didalam acara nydran
cukup banyak diantaranta nilai religius, sosial dan pendidikan. Tradisi nyadran di desa Panjangrejo merupakan
sebuah kearifan lokal yang perlu dijaga kelestariannya. Kebudayaan nyadran yang dilaksanakan oleh
masyarakat di desa Panjangrejo dimaksudakan untuk mengirim doa-doa kepada
orang-orang yang sudah meninggal atau roh-roh para leluhur.
Saran dari penulis
dengan adanya tradisi nyadaran adalah
kita harus bisa tetap melestarikan tradisi nyadran
ini sebab tradisi nyadran di beberapa
tempat sudah tidak dilakukan entah karena berhubunga dengan keyakinan maupun
karena masyarakat enggan melakukannya lagi karena kesibukan.
Sumber
Wawancara dengan
warga sekitar bernama simbah paijem dan observasi langsung
Darisma, Midhio dan Prasetyo. 2018.
Aktualisasi nilai-nilai tradisi nyadran
sebagai kearifan lokal dalam membangun budaya damai di giyanti, wonosobo.
Volume 4. Nomor 1


Komentar
Posting Komentar