TRADISI “NYADRAN” DI DUSUN NGLORONG, KELURAHAN PANJANGREJO, KECAMATAN PUNDONG, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA


TRADISI “NYADRAN
DI DUSUN NGLORONG, KELURAHAN PANJANGREJO, KECAMATAN PUNDONG, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA
Oleh : Meida Suryanti, 2016015356

Abstract
Tradisi “Nyadran” merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan warga menjelang Ramadhan yaitu melakukan ziarah ke makam leluhur mereka yang telah meninggal. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui ritual tradisi nyadran di Dusun Nglorong, Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka penulis mencoba menggunakan metode tanya jawab atau wawancara. Wawancara dilakukan dengan orang-orang terkait dengan tradisi nyadran, seperti Bapak Wardiyana selaku orang-orang yang bertugas menyiapkan perlengkapan upacara dan orang-orang pendukung tradisi tersebut. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh melalui wawancara dengan narasumber dapat disimpulkan bahwa, (1) bahwa masyarakat Dusun Nglorong memiliki pemahaman yang kental dan kuat mengenai tradisi nyadran sehingga masyarakat dusun secara serempak tetap hingga hari ini melestarikan budaya nenek moyang tersebut. (2) prosesi ritual nyadran di Dusun Nglorong secara umum hampir sama dengan tradisi yang berlangsung di tempat lain. (3) perlengkapan maupun peralatan (ubarampe) yang digunakan sebenarnya tidak membutuhkan peralatan maupun pelengkapan khusus, yaitu berupa alat untuk bersih-bersih, bunga tabur, dan membawa beberapa benda di antaranya berupa makanan yang mana nantinya akan dibagikan ke masing-masing warga yang tidak membawa/tidak membuat makanan dan wajib (uang infaq seikhlasnya) untuk ustadz yang memimpin jalannya acara. (4) adapun makna dan nilai-nilai filosofis tradisi nyadran adalah: melestarikan warisan nenek moyang, wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai wadah silaturahmi, perwujudan sikap rukun, perwujudan sikap hormat, perwujudan kedewasaan kehidupan beragama, dan sebagai perwujudan sikap keseimbangan kehidupan social.

Kata Kunci: Tradisi “Nyadran”, Dusun Nglorong

Latar Belakang
Setiap daerah memiliki budaya, adat (tradisi) atau kebiasaan yang beranekaragam. Tentunya dari keanekaragaman tersebut memiliki makna tersendiri serta terdapat nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam suatu budaya atau tradisi.  Masyarakat Jawa pada dasarnya merupakan masyarakat yang masih mempertahankan budaya atau tradisi upacara, serta ritual apapun yang berhubungan dengan suatu peristiwa, yang mana masih dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk dan nama upacara tradisi sangat beragam sesuai dengan latar belakang dan tujuan dilaksanakannya upacara tradisi.
Salah satu tradisi yang melekat pada jiwa masyarakat Jawa adalah tradisi Nyadran. Secara filosofis Nyadran adalah ritual simbolik yang sarat dengan makna. Menurut adat kejawen, sadranan berarti berziarah ke kubur atau pergi ke makam nenek moyang dengan membawa kemenyan, bunga dan air doa. Dalam makna lain, kata sadran berasal sari Bahasa Arab yaitu sod’ru berarti suatu doa yang ditujukan kepada leluhur yang sudah berada di alam kubur atau yang sudah meninggal dunia. Kemudian kata tersebut dilafalkan oleh lidah Jawa menjadi sadran/nyadran (Hakim, 2015: 11). Upacara nyadran yang dilakukan masyarakat Jawa berlaku pula pada masyarakat yang berada di Dusun Nglorong. Dusun ini terletak di Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Adapun untuk memperingati upacara nyadran ini dilakukan tiap setahun sekali.
Tradisi nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat Dusun Nglorong, Bantul. Tradisi ini dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan atau tepatnya di bulan Sya’ban. Dalam konteks social dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium dalam masyarakat melakukan interaksi social, sarana pembangunan jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme dimana pada prosesi ritual atau tradisi nyadran ini masyarakat berkumpul dan berbaur menjadi satu tanpa ada sekat-sekat kelas social dan status social sehingga munculnya nuansa damai, rukun dan tenteram.
Tujuan dari penulisan artikel ini diantaranya adalah; mengetahui proses/tata cara ritual tradisi nyadran di Dusun Nglorong, Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; mengetahui latar belakang dan perkembangan upacara tradisi nyadran di Dusun  Nglorong, Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; mengetahui makna dan nilai-nilai filosofis yang tekandung dalam upacara tradisi nyadran di Dusun Nglorong, Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.


Prosesi Budaya “Nyadran”
Sebelum upacara nyadran dilakukan adanya pembersihan, tabur buga dan perbaikan di area sekitar makam leluhur warga, seperti memotong rumput liar yang tumbuh di sekitar area makam, melakukan pengecatan pagar yang sudah pudar/rusak pada makam, dan lain sebagainya. Kegiatan pembersihan tersebut biasanya dilakukan kurang lebih seminggu sebelum upacara nyadran.
Setelah dilakukannya kegiatan pembersihan pada makam selama kurang lebih seminggu, kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah kenduri dimana warga khususnya bapak/pemuda berkumpul di area makam dengan membawa makanan, namun apabila terdapat beberapa warga yang tidak memiliki anggota laki-laki di rumah biasanya ibu-ibu menitipkan makanan tersebut kepada tetangganya yang memiliki anggota laki-laki untuk dibawa ke area sekitar makam dan diberi doa. Menu makanan yang dipersiapkan biasanya berupa nasi gurih dan lauknya. Sebagai sesaji, terdapat makanan khas yaitu ketan, kolak dan apem. Ketiga jenis makanan ini dipercaya memiliki makna khusus. Menurut Hakim (2015: 10) Ketan merupakan lambang kesalahan, kolak adalah lambang kebenaran, dan apem sebagai symbol permintaan maaf. Bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya, makanan ketan, kolak, dan apem memang selalu hadir dalam setiap upacara/slametan yang terkait dengan kematian. Makna yang terkandung dalam sesaji ini adalah agar arwah mendapatkan tempat yang damai di sisi-Nya.
Ketika di dalam masjid, bapak/pemuda bersama-sama mengirim doa kepada para leluhur maupun anggota keluarga yang sudah meninggal dibimbing oleh mbah kaum (ustadz), hal tersebut bertujuan agar para leluhur ataupun anggota keluarga yang sudah meninggal dapat diampuni segala dosa-dosa mereka memasuki bulan Ramadhan (Ruwwah). Pada pelaksanaan kenduri di masing-masing daerah tentunya berbeda, hal tersebut disesuaikan dengan keputusan bersama warga ketika diadakannya musyawarah warga.
Setelah selesai mengirim doa kepada para leluhur kegiatan selanjutnya yaitu membagi makanan kepada warga yang tidak membuat/membawa makanan. Kegiatan kenduri ini tidak terlalu diwajibkan bagi warga apabila dirasa memberatkan atau tidak sempat untuk membuatnya karena keadaan yang tidak memungkinkan, sehingga tidak terlalu menuntut warga untuk membuat makanan. Biasanya bagi warga yang tidak membuat atau membawa makanan ke area makam untuk kenduri akan mendapat bagian makanan/dibagikan makanan dari acara kenduri tadi, hal tersebut dimaknai rasa kebersamaan antarwarga, sama rata sama rasa. Adapun untuk pelaksanaan kenduri tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam.

Peralatan dan Perlengkapan (Ubarampe) Upacara “Nyadran”
Pada pelaksanaan serangkaian upadara nyadran ini sebenarnya tidak menggunakan perlengkapan khusus, hanya saja perlengkapan maupun peralatan (ubarampe) yang digunakan terutama ketika nyekar antara lain yaitu alat untuk bersih-bersih seperti sapu, arit, bunga tabur dan lain sebagainya. Kemudian untuk perlengkapan maupun peralatan (ubarampe) yang digunakan ketika kenduri juga tidak ada, hanya saja ketika kenduri tersebut membawa beberapa benda di antaranya berupa makanan dari masing-masing warga yang mana nantinya akan dibagikan ke masing-masing warga yang tidak membawa/tidak membuat makanan. Makanan yang telah warga bawa kemudian akan diberi doa yang mana diharapkan makanan tersebut mendapat atau memperoleh berkah dari Tuhan. Benda selanjutnya yang dibawa adalah wajib dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai uang infaq seikhlasnya dari warga, uang tersebut diberikan kepada mbah kaum (ustadz) sebagai bentuk terima kasih/imbalan karena telah memimpin jalannya acara.

Makna Upacara “Nyadran”
Nyadran merupakan cara untuk mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh leluhur. Tradisi nyadran merupakan kebudayaan yang telah berkembang di masyarakat yang sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang masih mempercayai dan melaksanakan tradisi nyadran secara rutin. Tradisi nyadran menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat Jawa setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Tradisi nyadran hakekatnya adalah symbol yang mewakili kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa leluhur yang sudah meninggal sejatinya masih ada dan mempengaruhi kehidupan anak cucu atau keturunannya. Karena pengaruh agama Islam pula makna nyadran mengalami pergeseran sebagai upaya untuk berdoa kepada Tuhan. Oleh karena itu pelaksanaan ziarah kubur juga dimaksud sebagai sarana intropeksi atau perenungan terhadap segala daya dan upaya yang telah dilakukan selama satu tahun.
Sedangkan adanya ritual selamatan (kenduri) merupakan suatu upaya manusia untuk mencar keselamatan, ketenteraman, dan sekaligus menjaga kelestarian alam. Aktifitas kenduri ini merupakan salah satu usaha manusia sebagai jembatan antara dunia bawah (manusia) dengan dunia atas (makhluk halus atau Tuhannya). Melalui kenduri maka diharapkan bisa menghubungkan manusia dengan dunia atas, dengan leluhur, roh halus, dan Tuhannya. Melalui perantara ini leluhur, roh halus, dan Tuhannya akan memberi berkah keselamatan manusia di dunia. (digilib.uinsby, 37-45)
Pada pelaksanaan tradisi nyadran terutama pada saat ritual upacara nyadran terdapat beberapa makna dan nilai-nilai filosofis di dalamnya diantaranya yaitu makna membersihkan makam bertujuan agar memupuk rasa kebersamaan dan mengasah rasa gotong royong masyarakat. Tabur bunga bermakna sebagai peringatan kepada para leluhur yang sudah mendahului. Kenduri di bangsal makam bermakna untuk masyarakat mengetahui akan ajal yang akan menjemput dan sebagai bentuk rasa kebersamaan dengan saling berbagi dan bersedekah. Makan bersama, bermakna sebagai bentuk sedekah kepada orang lain, berbagi kebahagiaan, dan saling toleransi.
Selain itu pada tradisi upacara nyadran ini juga memiliki makna dan nilai-nilai filosofis lain antara lain: (1) Melestarikan warisan nenek moyang, (2) Wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, (3) Perwujudan sikap rukun, (4) Membangkitkan kedewasaan kehidupan beragama, (5) Perwujudan sikap keseimbangan kehidupan social.

Nilai Budaya  “Nyadran”
Bagi masyarakat yang hidup di pedesaan adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan (Yuniastuti, dkk). Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Dusun Nglorong. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Dengan bergotong royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.
Selain itu dalam pelaksanaan tradisi upacara nyadran terdapat pula nilai budaya saling berbagi dan toleransi yang terkandung di dalamnya, hal tersebut nampak ketika terdapat beberapa warga yang tidak membawa makanan ketika kenduri pada akhir acara warga saling berbagi dengan warga yang tidak membawa makanan tersebut. Mereka selalu menekankan bahwa hidup itu harus saling berbagi, apabila terdapat rezeki yang lebih haruslah kita bagi kepada orang lain yang ada di sekitar kita dan  mungkin sedang membutuhan.

Kesimpulan
Berdasarkan data-data yang diperoleh penulis maka dapat diketahui mengenai tradisi nyadran di Dusun Nglorong, diantaranya sebagai berikut; Tradisi nyadran merupakan salah satu tradisi yang masih berkembang di Dusun Nglorong, Kelurahan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Nyadran dilaksanakan setahun sekali pada bulan Ruwah. Sesuai dengan perkembangan masyarakat saat ini memandang tradisi nyadran sebagai sujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan, kesehatan, dan rejeki yang telah diterima selama ini; Rangkaian acara yang dilaksanakan dalam upacara tradisi nyadran antara lain bersih makam, tabur bunga, kenduri di bangsal makam, yang dilanjutkan dengan aktivitas makan bersama setelah kenduri; Beberapa makna dan nilai-nilai filosofis dalam tradisi diantaranya makna membersihkan makam bertujuan agar memupuk rasa kebersamaan dan mengasah rasa gotong royong masyarakat. Tabur bunga bermakna sebagai peringatan kepada para leluhur yang sudah mendahului. Kenduri di bangsal makam bermakna untuk masyarakat mengetahui akan ajal yang akan menjemput dan sebagai bentuk rasa kebersamaan dengan saling berbagi dan bersedekah. Makan bersama, bermakna sebagai bentuk sedekah kepada orang lain, berbagi kebahagiaan, dan saling toleransi; Makna dan nilai-nilai filosofis lain dalam tradisi nyadran antara lain: Melestarikan warisan nenek moyang, Wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Perwujudan sikap rukun, Membangkitkan kedewasaan kehidupan beragama, Perwujudan sikap keseimbangan kehidupan social.

Saran
Dengan adanya tradisi nyadran yang telah ada sejak dahulu tersebut haruslah tetap dilestarikan karena dalam tradisi tersebut menyimpan nilai-nilai luhur yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat. Untuk masyarakat generasi tua diharapkan terus mengenalkan tradisi nyadran tersebut kepada generasi muda agar generasi muda dapat terus melaksanakan tradisi nyadran di Dusun Nglorong pada kehidupan yang akan datang. 

Foto Dokumentasi Upacara “Nyadran"

 






Sumber Referensi
Wawancara dengan Bp Wardiyana
Observasi tradisi “Nyadran” di Dusun Nglorong
Nurjana, Winarno Dan Yuniastuti. Tidak Ada Tahun. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di DAM Bagong Kelurahan Ngantru [Laporan Penelitian]. Trenggalek: Universitas Negeri Malang.
Hakim, Muhammad Luqmanul. 2015. Makna Dan Nilai-Nilai Filosofis Dalam Tradisi Nyadran Di Dusun Tritis Kulon [Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan