Tradisi Nyadran di Dusun Koripan RT 05 dan RT 06 Sindumartani Ngemplak Sleman


TRADISI NYADRAN di DUSUN KORIPAN Rt 05 dan Rt 06 SINDUMARTANI NGEMPLAK  SLEMAN
SARINI PAHWATI (2016015336)


ABSTRACT
Tradisi Nyadran adalah salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat Dusun Koripan. Tradisi ini dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci ramadhan atau tepat nya pada bulan jawa yaitu bulan ruwah. Tradisi Nyadran dapat dijadikan sebagai tempat untuk perekat sosial, membangun rasa kebangsaan dan nasionalisme. Dalam tradisi ini masyarakat akan berkumpul tanpa adanya perbedaan agama dan keyakinan, status sosial, maupun golongan. Tradisi nyadran ini menjadi ajang untuk saling membaur antara individu yang satu dengan yang lain.


PENDAHULUAN
Upacara tradisi merupakan salah satu bentuk realisasi kebudayaan dalam masyarakat yang hampir dimiliki disetiap daerahnya. Upacara tradisi termasuk wujud dari kebudayaan yang berupa suatu kegiatan atau aktivitas masyarakat yang dilakukan secara berpola dari manusia dalam masyarakat atau biasa disebut dengan sistem sosial. Pada dasarnya Masyarakat jawa masih mempertahankan budaya atau tradisi upacara, atau ritual apapun yang masih berhubungan dengan peristiwa alam yang masih dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Jawa khususnya sangat identik dengan berbagai macam upacara selamatan. Baik upacara selamatan dalam pernikahan, kelahiran bayi, bahkan sampai upacara selamatan bagi seseorang yang telah meninggal dunia. Bentuk dan nama upacara tradisi sangat beragam, salah satu tradisi yang masih melekat dijiwa masyarakat jawa yaitu tradisi nyadran. Tradisi nyadran yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Jawa sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan bagi masyarakat  Jawa begitu juga pada masyarakat di Kampung Koripan.
Tradisi nyadran yang dilakukan di Kampung Koripan dilaksanakan setiap setahun sekali, yaitu pada bulan ruwah dalam kalender Jawa pada tanggal 22 untuk menyambut datangnya bulan puasa. Kepercayaan terhadap tradisi nyadran pada zaman sekarang ini difokuskan kedalam bentuk syukur kepada Allah SWT. Sebagai acara pembuka sebelum dilaksanakannya tradisi nyadran warga masyarakat bergotong royong untuk membersihkan makam anggota keluarga. Kemudian satu hari sebelum hari pelaksanaan tradisi nyadran atau sebelum upacaya nyadran dimulai masyarakat melakukan nyekar anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Setelah acara nyekar selesai maka menuju acara selanjutnya yaitu di acara inti warga masyarakat berbondong-bondong mendatangi Mushola terdekat atau di daerah setempat atau  dimakam dimana para kerabat dimakamkan dengan membawa berbagai makanan yang disukai anak-anak dan makanan yang wajib dibawa. Disana masyarakat membaca tahlil bersama-sama, berdoa bersama-sama serta sholawat bersama-sama.
Setelah selesai berdoa disisihkan sebagian makanan yang telah mereka bawa untuk makan gajah (untuk seseorang yang dipercayai sebagai juru kunci makam atau seseorang yang mengurusi makam baik kebersihan dan lain sebagainya). Setelah acara tahlil, doa dan sholawat selesai serta makan gajah sudah di berikan maka para anak-anak berebut membuka kotak makanan atau jajanan yang dibawa oleh setiap orangnya untuk mengambil makanan ringan yang anak-anak sukai bukan hanya makanan ringan akan tetapi juga terdapat buah-buah didalam kotak khusus atau bisa di sebut juga jodan/gunungan utamannya.
Menu makanan yang disiapkan biasanya nasi gurih dan lauknya sebagai sesaji. Terdapat 3 jenis makanan yang tidak mungkin tertinggal dalam setuiap upacara yaitu ketan, kolak, dan apem yang disetiap makanan tersebut memiliki filosofi tersendiri. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi maka nasi gurih atau sego gurih tidak lagi menjadi hal yang wajib akan tetapi diganti dengan nasi biasa yang di bentuk seperti tumbeng dan diberi lauk. Dan dengan seiring perkembangan zaman makan ketak, kolak dan apem hanya digunakan pada saat mengirim doa saat ruwahan dan pada saat upacara nyadran tidak ada ketan, kolak, apem.
Berdasarkan observasi dan pengamatan yang dilakukan maka masih kuatnya tadisi nyadran yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Koripan Sindumartani Ngemplak Sleman meskipun perkembangan zaman yang masih sangat pesat akan tetapi upacara tradisi nyadran tidak luntur meskipun ada beberapa menu makanan yang di ganti sesuai dengan perkembangan zaman atau yang sesuai dengan zamannya. (Muhammad Arifin, 2015)
  

PEMBAHASAN
(Hakin, 2015) Tradisi-tradisi yang masih berkembang di masyarakat jawa merupakan salah satu kebudayaan yang tetap terplihara atau terjaga. Tradisi adalah kebiasaan yang  dilakukan secara turun temurun yang masih dilaksanakan dalam masyarakat menganggap bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik. Penyelenggaraan upacara atau aktivitas upacara mempunyai arti tersendiri bagi warga. Selain sebagai permohonan terhadap ruh para leluhur dan rasa syukut terhadap Tuhan juga sebagai saranan sosialisasi dan pengukuhan nilai-nilai budaya yang sudah ada dan berlaku dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
         
          


Upacara Naydran yang dilakukan setiap tahunya oleh masyarakat Dusun Koripan tradisi ini atau upacara yang dilakukan ini pada intinya adalah untuk mengirim doa, mendoakan para leluhur atau bisa disebut ziarah kubur. Pada hari yang telah ditentukan bahwasanya hari ini akan diadakan upacara nyadran maka sebagian besar ibu-ibu atau kaum hawa mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk upacara nyadran seperti memasak nasi beserta lauk pauknya untuk  nantinya dibawa pada saat upacara nyadran berlangsung. Bukan hanya lauk pauk yang disesiapkan akan tetapi berupa makanan ringan (snack) yang disukai oleh anak-anak.
Selain untuk mengirim doa untuk para leluhur masyarakat juga bahagia melihat anak-anak berebut makanan disini terlihat bahwa ada kebahagian tersendiri ketika mereka melihat anak-anak mereka berebut makanan selain itu masyarakat juga dapat berbagi kepada satu sama lain. Setelah semua persiapan sudah siap maka setiap keluarga nyekar (ziarah kubur) ke makam kerabatnya, mengirimkan doa agar diberi keluasan kubur diringankan bebannya dan lain-lain.
Setelah acara nyekar selesai maka menuju ke acara selanjutnya, di Dusun Koripan khususnya upacara nyadran dilakukan di halaman mushola.  Dimulai dengan membaca tahlil bersama-sama, membaca doa bersama-sama dan bersholawat bersama. Setelah berdoa selesai maka anak-anak berebut makanan atau snack yang mereka inginkan meskipun  sedikit gaduh akan tetapi bagi orang tua yang melihatnya merasa bahagia karena melihat anak-anak bisa berbagi dengan teman yang tidak mendapatkan snack yang sama.

             


Setelah acara berebut jajanan selesai maka masyarakat kembali kerumah masing-masing menunggu jika ada sanak saudara yang bersilaturami. Di Dusun Koripan khususnya acara upacara nyadran dalam dua RT bukan tidak mungkin ada yang tidak mengikuti acara nyadran tersebut bahkan dalam satu dusun pun upacara nyadran biasanya dilaksanakan berbeda waktunya sehingga yang merayakan upacara nyadran pada hari itu berbagi makanan dengan tetangga kanan kiri dan kepada kerabat dekat. Sehingga timbul rasa saling mengasihi dan berbagi satu dengan yang lain. Bagi anak-anak mungkin ini adalah pesta, dimana banyak makanan yang mereka peroleh dari rayahan yang dilakukan dalam upacara nyadran tersebut.

                          

Alat-alat yang diperluka dalam upacara tradisi nyadran ini adalah seperangkat nasi golong dan makanan lain yang berupa pisang, peyek, ingkung bagi yang mampu jika tidak mampu maka bisa menggunakan lauk seadanya. Serta makanan lain yang disukai dengan anak-anak. Dalam acara ini juga dibutuhkan jodang. Jodang adalah kota besar yang berisi makanan lengkap ada ingkung dan lain sebagainya.
Jika masyarakat tidak mampu membawa makanan yang mewah maka mereka biasanya membawa nasi golong disertai dengan jajanan pasar yang nantinya akan dibagikan atau di rayah oleh anak-anak. Hal tersebut merupakan sedekah yang bisa di sedekahkan oleh mereka yang tergolong orang-orang yang menengah. Alat lain yang dibutuhkan untuk menunjang kelancaran acara upacara nyadran yaitu microfon atau pengeras suara, dan tikar.
Dalam upacara nyadran ini menggunakan peralatan yang memiliki makna tersendiri mulai dari nasi golong yang memiliki arti sebagai supaya golong gilik atau agar setiap pertemuannya sama untuk mendoa kan ruh leluhur yang sudah meninggal. Pisang memiliki arti atau melambangkan suatu harapan supaya kelak hidup bahagia dan melambangkan suatu harapan supaya kelak hidup bahagia.
Peyek melambangkan bahwa di dunia ini manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan masih membutuhkan bantuan dari orang lain.  ingkung ayam dalam upacara nyadran ini berupa Ayam yang dimasak secara utuh diberi mumbu tidak pedas dan santan . Ingkung melambangkan manusia ketika masih bayi belum mempunyai kesalahan atau masih suci . Ingkung juga melambangkan kepasrahan kepada Tuhan. Jajanan panar yang dibawa masyarakat dalam upacara nyadran ini memiliki arti yaitu jajan pasar melambangkan harapan berkah dari Tuhan.
Nilai pendidikan yang dapat dipetik dari tradisi nyadran yang setiap tahunnya di lakukan di Dusun Koprian ini yaitu nilai gotong royang dimana sebelum acara nyadran dilakukan maka masyarakat saling bantu satu dengan yang lain untuk membersihkan tempat yang akan digunakan untuk upacara nyadran, timbul pula rasa kebersamaan dalam sebuah masyarakat, saling berbagi satu sama lain jika satu individu tidak membawa jeruk misalnya maka individu lain yang membawa jeruk dapat membaginya dengan individu yang tidak membawanya dilihat dari segi agama hal ini disebut sebagai sedekah. Saling menyayangi satu dengan yang lain, dan akan timbul pula rasa  tolerasi terhadap segala perbedaan yang ada dalam sebuah masyarakat.


PENUTUP
KESIMPULAN
Tradisi adalah kebiasaan yang  dilakukan secara turun temurun yang masih dilaksanakan dalam masyarakat. Masyarakat Jawa khususnya sangat identik dengan berbagai macam upacara selamatan. Baik upacara selamatan dalam pernikahan, kelahiran bayi, bahkan sampai upacara selamatan bagi seseorang yang telah meninggal dunia. Bentuk dan nama upacara tradisi sangat beragam, salah satu tradisi yang masih melekat dijiwa masyarakat jawa yaitu tradisi nyadran. Yang diselenggarakan pada setiap bulan ruwah dalam kalender Jawa tepatnya  tanggal 22 sebelum bulan ramadhan tiba.
Acara ini dilaksanakan setahun sekali inti dari tradisi ini ialah sebagai alat atau perantara untuk mengirim doa, mendoakan para leluhur atau bisa disebut ziarah kubur. Selain itu juga bisa sebagai raga syukur atas karunia yang telah ALLAH SWT berikan kepada umat-Nya. dalam upacara tradisi nyadran ini sama seperti upacara tradisi umumnya yaitu membutuhkan perlengkapan atau alat penunjang terlaksananya acara nyadran ini diantaranya yaitu seperti nasi beserta lauk ingkungnya yang melambangkan bahwa manusia terlahir dalam keadaan suci.
Selain itu juga ada pisang yang melambangkan bahwa kehidupan yang akan datang bahagia. Jajanan pasar sebagai berkah yang telah diberikan ALLAH SWT. Selain itu dalam acara tradisi nyadran ini kita juga bisa mendapatkan nilai moral seperti nilai gotong royong, saling mengasihi dan menyayangi, timbulnya rasa toleransi antar sesama dan adanya keinginan untuk berbagi kepada sesama.


REFRENSI
Hakin, M. L. (2015). makna dan nilai-nilai filosofis dalam tradisi nyadran di Dusun Tritis Kulon kelurahan Gilikerta kecamatan Turi kabupaten Sleman Yogyakarta. jurnal skripsi, 1-90.
Muhammad Arifin, S. I. (2015). Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadran Di Tengah Arus Modernisasi (Studi Diskriptif Kualitatif Di Kampung Krenen, Kelurahan Kriwen, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo). jurnal artikel, 2-16.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan