Tradisi Naik Dango Suku Dayak Kanayatn


TRADISI NAIK DANGO SUKU DAYAK KANAYATN
Oleh : Yohanes (2016015316)
ABSTRAK
Indonesia memiliki banyak kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang tidak banyak diketahui oleh generasi muda. Budaya dan tradisi yang dipercaya seacara turun temurun dan itu merupakan identitas yang harus dijaga dan dilestarikan oleh para bangsa. Salah satunya adalah Naik Dango. Naik Dango adalah acara rutin tahunan yang diadakan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Nek Jubata (sang pencipta) atas panen padi yang diperoleh. Selain untuk bersyukur, juga untuk memohon kepada Jubata agar hasil panen tahun
Tradisi Naik Dango didasari mitos asal mula padi menjadi popular di kalangan orang Dayak Kalimantan Barat, yakni cerita “Ne Baruankng Kulup” yaitu Kakek Baruangkng Yang Kulup karena tidak sunat. Dalam Gawai, selain acara inti yakni nyangahathn (pembacaan mantra), juga ditampilkan berbagai bentuk budaya tradisional seperti berbagai upacara adat, permainan tradisional, dan berbagai bentuk kerajinan yang juga bernuansa tradisional.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan sebuah bangsa yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan itu tentu berasal dari banyaknya suku yang menetap di Negara ini. Setiap suku yang menetap di masing-masing pulau selalu memiliki adat istiadat yang berbeda-beda pulau sesuai letak geografisnya. Dalam bangsa Indonesia terdapat juga istilah lain yang sangat tepat untuk menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini, yaitu adat atau adat-istiadat bentuk jamaknya (Koentjaraningrat, 1996 : 187).
Berbgai macam upacara yang terdapat di dalam masyarakat pada umumnya merupakan pencerminan bahwa semua perencanaan, tindakan dan perbuatan telah diatur tata nilai luhur. Tata nilai luhur tersebut diwariskan secara turun-temerun dari generasi ke generasi berikutnya sebagai sebuah tradisi ( Bratawidjaja, 1988 : 9). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988 : 959).Tradisi adalah adat-istiadat turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat atau penilaian, anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar.
Masyarakat dayak adalah masyarakat yang memiliki banyak tradisi dan adat-istiadat  seperti daerah-daerah lainya di Nusantara. Akan tetapi tidak banyak orang yang tertarik menelitinya sehingga kebanyakan orang Indonesia masih merasa asing dengan dengan Kebudayaan Dayak.
Dayak mempunyai sekitar 450 sub suku yang tersebar di seluruh Kalimantan. Ada banyak versi tentang kelompok suku tersebut. Pada mulanya subsuku tersebut adalah bagian dari kelompok yang sama, tetapi karena proses geografis dan demografi yang berlangsung, kelompok ini menjadi terpecah-pecah. Secara historis terdapat berbagai kekuatan yang bekerja menbangun dan membentuk pandangan orang tentang “orang-orang Dayak”. Dengan menyertakan embel-embel “primitif”, orang-orang barat mengambarkan orang-orang Dayak pemburu kepala dan sebagai orang-orang yang komunal dari berburu dan mengumpulkan, dan tinggal di rumah-rumah panjang (Maunati, 2004 : 6).
Suku Dayak Kanayank merupakan salah satu subsuku terbesar yang menempati bagian Barat pulau Kalimantan dan terbesar hampir setiap kabupaten yang ada dikalimantan barat, khususnya kabupaten Landak, dan sekitarnya.
            Tradisi naik Dango merupakan bagian dari salah satu ritual yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada jubata (Tuhan) yang telah memberikan hasil melimpah pada usaha pertanian yang dilakukan. Ritual Naik Dango menyangkut sistem religi yang merupakan bagian dari unsur-nsur kebudayaan. Nikai relegius yang terkandung dalam tradisi Naik Dango tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Dayak Kanayant menempatkan Jubata Nek Panampa sebagai pusat dalam pengatur makro kosmos. System religi merupakan wujud sebagai sistem keyakinan dan gagasan-gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh-roh halus, neraka, surga dan sebagainya, tetapi juga berwujud upacara-upacara, baik yang bersifat musiman maupun yang kadang kala (Koentjaraningrat, 1986 : 204).
            Tradisi Naik Dango merupakan tradisi tahunan yang masih dikenal dikalangan masyarakat suku Dayak Kanayant. Secara tradisional tradisi ini dilaksanakan dalam masyarakat Dayak Kanayant setelah panen padi Uma (sawah) usai, yaitu antara bulan april sampai dengan  bulan mei pada setiap tahunya. Namun secara umum, tradisi ini sudah ditetapkan dalam kalender pertanian masyarakat Dayak Kanayatn dan dilaksanakan pada akhir bulan april, antara tanggal27-30 setiap tahunya. Tradisi tahunan ini dikemas dalam bentuk sebuah pesta besar yang melibatkan banyak kalangan, baik dari pihak tuhan rumah (tempat dilaksanakanya tradisi ini) maupun masyarakat atau instansi-instansi yang di undang. Tradisi dilakukan pada bulan april karena bulan april masyarakat suku dayak kanayatn yang sebagian besar berpenghasilan sebagai petani menunaikan panen tahunan (Andasaputra 1997 : 70).
            Pada zaman modern seperti sekarang ini, masyarakat suku Dayak Kanayatn masih memelihara nilai tradisi warisan leluhur dengan memperingati naik dango setiap tahunya. Tradisi Naik Dango yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak Kanayatn dihadiri oleh pemerintah daerah, penatua-penatua adat, tokoh-tokoh masyarakat, mulai dari Wali kota, Bupati, Kepala Kecamatan, Kepala-kepala Desa, dan aparat-aparat pemerintah lainya. Tamu-tamu undangan bahkan masyarakat dayak yang merayakan dan masyarakat lainya yang datang untuk menyaksikan tradisi Naik Dango secara langsung.
            Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu mengingat akan pencipta yang selalu memberi berkat yang melimpah kepada kita. Jadi apa saja yang telah diperoleh  atas karunia jubata diserahkan kembali kepadanya untuk di simpan. Demikian pula untuk mengambilnya wajib di taati tatanan adat yang sudah ditentukan.


PEMBAHASAN
1.      Asal Mula Naik Dango
Naik Dango adalah kegiatan ritual seputar kegiatan panen yang diselengarakan setahun seklai oleh masyarakat Dayak Kanayatn dibuat oleh Donatus Dunselman, seorang missionaris Katolik yang berasal dari Belanda. Misionaris yang hidupnya dihabiskan ditengah-tengah masyarakat Dayak Kanayatn ini mengambil judul tulisan berbahasa belanda  yaitu Bijdrage tot de Kensis van de taal en Adat der Kanayatn Dayaks van West Borneo. Buku ini ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Belanda dan bahasa Indonesia (Andasaputra, 1997 : 69).

2.      Pelaksanaan Naik Dango

Menurut Purwadi (2006 : 23) kalender adalah penanggalan yang memuat nama-nama bulan, hari, tanggal dan hari-hai keagamaan seperti yang terdapat pada kalender masehi. Masyarakat Dayak Kanayatn mengenal istilah kalender pertanian. Dimana mereka bisa menentukan saat yang tepat untuk memulai berladang atau bersawah. Biasanya waktu yang dibutuhkan mengerjakan sawah membutuhkan waktu yaitu antara bulan oktober sampai april.
Pesta Naik Dango biasanya di laksanakan setelah panen sawah selesai yaitu sekitar bulan april. Tradisi Naik Dango secara tradisional yang dilakukan di masing-masing kecamatan di kabupaten landak dilaksanakan pada bulan april sampai bulan mei.
Karena tradisi Naik Dango sudah diakui sebagai sebagai salah satu tradisi besar suku Dayak Kanayatn maka dari itu tradisi ini dilaksanakan secara besar-besaran dengan suasana lebih meriah pada tanggal 27-30 April setiap tahunya. Dalam tradisi besar ini diadakan bermacam-macam pergelaran acara, diantaranya perlombaan permainan rakyat, kesenian rakyat, dan kreatifitas pemuda-pemuda Dayak Kanayatn. Tradisi ini diselengarakan perkabupaten, pihak yang menyelengarakan biasanya mengundang orang-orang di kabupaten lain yang ada di Kalimantan Barat. Tradisi ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat local tetapi banyak pula peminat lain seperti turis asing yang tertarik menyaksikan dan mendokumentasi tradisi ini.

3.      Perlengkapaan Naik Dango
Tradisi Naik Dango merupakan puncak dari kegiatan petani yang di rangkum menjadi tradisi pengucapan syukur kepada sang Jubata atau Tuhan atas hasil pertanian yang diberikan kepada masyarakat Dayak Kanayatn. Dalam upacara ini di perlukan prangkat adat atau sesaji yang diperlukan sebagai kurban  bakti/sesaji upacara Matik terdiri dari tumpi sunguh ( makanan sejenis cucur yang diberi garam), tungkat/solekng poe ( ketan yang dimasak dalam bambu), sirih masak ( terdiri dari daun sirih dengan kapur sirih, gambir dan pinang yang siap dikunyah, ditambah gulungan rokok daun nipah. Sedangkan upacara Nyangahan hatn merupakan pemanjatan doa kepada jubata melalui mantra-mantra yang dipanjatkan oleh penyangahatn atau imam yang juga berfungsi sebagai perantara antara manusia dengan jubata.


KESIMPULAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya, bukan hanya kaya akan sumber daya namun juga kaya akan kebudayaan. kebudayaan adalah bagian dari kesenian, Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku pasti memiliki keunikan dan kekhasan yang masing-masing berbeda. Salah satu kebudayaan yang dimiliki Indonesia adalah kesenian, baik seni rupa maupun seni pertunjukan. Salah satu kesenian pertunjukan di Indonesia adalah Tradisi naik Dango merupakan bagian dari salah satu ritual yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada jubata (Tuhan) yang telah memberikan hasil melimpah pada usaha pertanian yang dilakukan. Ritual Naik Dango menyangkut sistem religi yang merupakan bagian dari unsur-nsur kebudayaan. Nikai relegius yang terkandung dalam tradisi Naik Dango tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Dayak Kanayant menempatkan Jubata Nek Panampa sebagai pusat dalam pengatur makro kosmos. System religi merupakan wujud sebagai sistem keyakinan dan gagasan-gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh-roh halus, neraka, surga dan sebagainya, tetapi juga berwujud upacara-upacara, baik yang bersifat musiman maupun yang kadang kala (Koentjaraningrat, 1986 : 204).


LAMPIRAN






REFRENSI
DITJENBUD, T. (2000). Strstegi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Indonesi. Indonesia: Direktorat Jendral Kebudayaan.
Departemen  Pendidikan nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Askara Baru

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan