Kesenian Tradisional Jhatilan “Ngesti Turonggo Mudho"



Kesenian Tradisional Jhatilan “Ngesti Turonggo Mudho"
Nama   : Fajar Mur Fantoro
Nim     : 2016015321
Abstrack
Kesenian tradisional jhatilan Nesti Turonggo Mudho ini di lestarikan oleh warga kelurahan Bener, Kecamatan tegalrejo, Kota yogyakarta. Salah satu kesenian yang muncul  dari tradisi masyarakat sejak lama, jhatilan harus dijaga dan dilestarikan. Karena dengan adanya kesenian jhatilan ini jika dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu modal awal pengembangan konsep kampung wisata budaya. Karena melalui konsep kampung wisata budaya, diharapkan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat setempat. Melalui konsep kampung wisata budaya ini pemkot kota mengharapakan mampu menarik wisatawan yang akan berwisata keliling kampung menggunakan sepeda untuk untuk menikmati potensi-potensi yang ada baik berupa kesenian tari, batik, jhatilan dan lain-lain. Selain melihat, wisatawan bisa berperan aktif untuk mencoba membatik atau bahkan ikut menari. Sementara itu, salah satu anggota yang saya tanya mengenai paguyuban Jhatilan Ngesti Turonggo Mudho mengakui selaian untuk melestarikn seni budaya, grup jhatilan ini dibentuk untuk mengisi waktu generasi muda dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Karena kebanyakan anggota yang masuk di Jhatilan Ngesti Turonggo Mudho adalah para remaja. Untuk latihan yang dilakukan biasanya dilaksanakan pada setiap hari sabtudan minggu malam apabila hari minggu tidak ada jdwal manggung atas permintaan orang yang menyewa jasa mereka untuk menari dan menjadi hiburan. Dari salah satu anggota mengatakan untuk latihan kenapa hari sabtu, karena untuk memanfaatkan waktu luang ketimbang jalan-jalan gak jelas ataupun nongkraong yang gak ada artinya mereka lebih senang ngumpul dan berlatih bersama. Selin itu hari berikutnya libur jadi di piih hari sabtu malam. Untuk paguyuban ini, mulai aktif kembali sejak 2016 lalu kini sudah memiliki anggota sebanyak 80 orang. Mereka adalah warga kampug Bener yang bergabung atas kemauan sendiri dan berdasarkan izin orang tua. Pertunjukan kemarin minggu tgl 21/4/2019 merupakan wujud dari hasil latihan setiap sabtu. Dari segi tarian yang dilakukan sangat baik dan bagus, untuk alat musik paguyuban ini sudah memiliki sendiri. Jadi untuk peralatan pentas paguyuban ini sudah mempunyai peralatan sendiri. Untuk soud system paguyuban ini menerima sesuai apa yang disewakan piha yang menyewa mereka namun paguyuban ini menerapkan standar menengah untuk kualitas soud system yang harus digunakn karena baik buruknya soud system cukup mempengaruhi hasil suara yang dihasikan dari setiap alat musik yang dipakai ketika manggung. Untuk pakain atau kostum, paguyuban ini sudah lengkap tanpa harus menyewa di paguyuban lain. 


PENDAHULUAN
Latar belakang
            Kesenian tradisional jhatilan Ngesti turonggo mudho ini termasuk ksenian tradisional yang sudah lama dan dengan ada paguyuban ini guna unuk melestarikan  kesenian dan untuk mengenalkan pada generasi muda saat ini. Karena dengan kemajuan teknologi saat ini banyak anak muda yang lebih mengagap bahwa kesenian tradisional terlihat kuno dan tidak menaik sama sekali. Dilihat dari kemajuan teknologi saat ini nbanyak generasi muda sudah terpengaruh dengan budaya luar dan mengabaikan budaya yang sudah ada. Misal anak muda sekarang lebih suka dengan K-Pop dan sebagainya. Dengan adanya paguyuban Jhatilan Ngesti Turonggo Mudho ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda yang ingin ikut andil dalam melestarikan kesenian daerah yang sangat penting ini. Dalam kesenian jhatilan ini juga mengenalkan bbeberapa alat musik tradisional seperti kendang, balungan,  ketipung dan lain-lain. Jadi tidak hanya tarian namun juga mampu mengenalkan berbagai alat musik tradisional yang digunakan. pada dasarnya kesenian tradisional yang ada saat ini harus dilestarikan jangan sampai generasi muda saai ini acuh terhadap kesenian tradisional yang telah ada sejak lama. Budaya tradisional ini harus dijaga kalo bukan kita sebagai generasi muda siapa lagi yang akan melestarikan kesenian daerah ini, supaya sampai kelak nanti anak cucu kita tahu mengenai kesenian tradisional daerah yang ada.
Tujuan Penulisan Artikel
1.      Mengetahui kesenian daerah yang ada di sekitar kita.
2.      Untuk mengenalkan kesenian tradisional di sekitar kita.
3.      Ikut serta dalam upaya melestarikan kesenian tradisional yang ada.


PEMBAHASAN
            Jathilan adalah kesenian yang telah lama dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda kepang, ataupun jaran kepang. Tersemat kata “kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dilihat dari asal katanya, jathilan berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan thil-thilan tenan,” yang jika dialih bahasakan ke dalam bahasa indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan ”.  Joget beraturan (thil-thilan) ini memang bisa dilihat pada kesenian jathulan utamanya ketika para penari telah kerasukan.
Gerakan dan  Pelaksanaan Tarian

Pagelaran kesenian ini dimulai dengan tari-tarian oleh para penari yang gerakannya sangat pelan tetapi kemudian gerakannya perlahan-lahan menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan. Gamelan untuk mengiringi jatilan ini cukup sederhana, hanya terdiri dari drum, kendang, kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking.

Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta, namun ada juga yang menyanyikan lagu-lagu lain. Setelah sekian lama, para penari kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukan gerakan-gerakan yang sangat dinamis mengikuti rancaknya suara gamelan yang dimainkan.

Pada mulanya penari nampak lemah gemulai dalam menggerakkan badan, namun seiring waktu berjalan,  para penari menjadi kerasukan roh halus, dimana kondisi kerasukan ini dalam bahasa Jawa sering dikatakan istilah “ndadi” atau dalam bahasa Inggrisnya ‘trance’. Dalam keadaan kerasukan, para penari jatilan hampir tidak sadar terhadap apa yang diperbuatnya. Gerakan tariannyapun mulai tak beraturan, pada kondisi inilah kata jathilan itu tergambar.


Dalam satu pertunjukan, kecuali para penari yang memiki jumlah tertentu tergantung cerita yang hendak disampaikan, maka ada instrumen pertunjukan lainnya, yaitu para penabuh gamelan, para perias, dan yang tak boleh ketinggalan adalah keberadaan “pawang”, yaitu sosok yang memiliki peran serta tanggungjawab mengendalikan jalannya pertunjukan dan menyembuhkan para penari yang kerasukan.

Ketika  terjadinya “ ndadi ” alias kerasukan, para penari jathilan mampu melakukan  atraksi berbahaya yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia, sebagai contoh adalah memakan dedaunan, menyantap kembang, bahkan juga mengunyah beling (pecahan kaca), bahkan berperang menggunakan pedang, serta tindakkan menyayat lengan.


Pelaku seni tari kuda lumping tak sebatas pada jenis kelamin laki-laki saja,melainkan ada pula perempuannya, keduanya tetap tak bisa lepas dari kejadian ‘ndadi’ a.k.a trance.  Ini memberikan pesan bahwa jathilan selain merupakan hiburan rakyat juga mampu menyertakan unsur ritual.  Contoh nyata adalah ketika seorang pawang jathilan melakukan suatu ritual yang intinya memohon ijin kepada Tuhan agar jalannya pertunjukan lancar, serta mengucapkan “permisi” kepada makhluk lain yang berada diseputaran tempat tersebut agar tidak menggangu jalannya pertunjukan.
Dalam Seni Jatilan disediakan berbagai sesaji yang disediakan. Sajen yang disediakan pada pertunjukan jathilan diantaranya adalah satu tangkep pisang raja, beberapa macam jajanan pasar berupa makanan-makanan, tumpeng robyong yang dihias dengan daun kol, bermacam-macam kembang, beraneka jenis minuman (kopi ,teh , air putih ), menyan, hio (dupa China), ingkung (ayam bekakak), sega golong (nasi bulet), dan lain sebagainya. Jenis sesaji ini tentu saja tak sama antara daerah satu dengan yang lainnya.


PENUTUP
Kesimpulan
      Dari hasil observasi dan wawancara terhadap para pemaian jhatilan dapat disimpukan bahwa kesenian trradisional jhatilan yang sudah mulai hilang penerusnya. Akan tetapi masih ada generasi muda yang masih mau ikut andil dalm melestarikan kesenian tradisional jhatilan ini. Dari pembahasan di atas kita tahu bahwa perlengkapan apa saja yang digunakan pada saat pagelaran jhatilan. Seperti gamelan dan alat musik lainnya, bahkan kita juga diajarkan untuk selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa “Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Penciptawalaupun disisi lain kesenian jhatilan ada ritual tetapi hanya untuk minta ijin dan permisi pada roh para leluhur. Kesenian jhatilan merupakan salah satu hiburan rakyat yang menertakan ritual di dalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan