Kain Tenun Khas Tanimbar Saumlaki, Maluku Tenggara Barat




KAIN TENUN KHAS TANIMBAR
Saumlaki, Maluku Tenggara Barat
oleh: FELOMINA LORU (2016015250)

Abstrak

Di kabupaten Maluku Tenggara Barat kain tenun merupakan sebuah keterampilan yang diturunkan secara leluhur hingga saat ini, dengan berbagai motif dan warna yang beragam melahirkan banyak koleksi yang siap untuk pasarkan, kain tenun juga bukan saja untuk dipasarkan tetapi juga dapat digunakan pada acara-acara tertentu misalnya Pagelaran seni, Tari-tarian Tradisional maupun upacara adat dan yang paling utama adalah acara-acara besar kedaeraan.
kata kunci: Kain Tenun Tanimbar

Indonesia adalah adalah satu Negara penghasil seni tenun yang terbesar di dunia, khusus dalah hal keanekaragaman hiasannya (Fister, 1979:9). Awalnya para penenun generasi pendahulu kita hanya mengenal benang kapas sebagai bahan baku tenunannya. Namun setelah adanya pengaruh hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan Eropa tampaknya telah mempengaruhi pula hasil tenunan bangsa kita. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil-hasil tenun yang sebelumnya terkesan sederhana, berkembang menjadi tenunan yang kompleks, rumit dan indah dengan kemilau benang emas dan warna warni yang diperoleh dari benang sutra.
Selain itu apabila dicermati, setiap ragam hias yang ada pada sehelai kain tenun sebenarnya mengandung nilai-nilai yang bermakna luhur sebagai wujud dari budaya masyarakat Indonesia pada masa lampau. Pembuatannya yang rumit baik teknik tenunan, pewarnaan maupun ragam hias yang menggunakan peralatan dan bahan khusus telah memberikan nilai tambah pada karya seni tenun tersebut. Hal tersebut menyebabkan besarnya perhatian para ahli tekstil mancanegara terhadap potensi dan keunggulan tenun atau tekstil tradisional Indonesia. Buktinya dapat kita lihat dengan adanya publikasi dalam bentuk buku-buku hasil penelitian yang telah mereka lakukan selama ini. Sebaliknya perhatian masyarakat Indonesia terhadap tekstil tradisional, khususnya generasi muda sangat kurang.
 Dengan adanya inventaris daerah ini diharapkan bukan saja dapat diperdagangkan tetapi juga menjadi: inventaris generasi ke generai sebagai budaya daerah yang akan menjadi warisan secara turun-temurun dan diharapkan anak-anak remaja menengah keatas dapat mengetahui cara pembuatan kain tenun ini sehingga untuk memproduksikan kain tenun ini dapat secara tetap dihasilkan untuk setiap generasi ke generasi.
Adanya penegetahuan tentang kain tradisional dan juga mempunyai nilai jual yang tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga membutukan pengetahuan lebih tentang kain tenun, mulai sejarah adanya kain tenun, makna dan arti dari kain teun itu sendiri sampai pada alat dan bahan, cara pembuatan kain, cara pmuatan motiv pada kain, serta tahap-tahap apa saja ynag diperlukan dalam proses pembuatan kain tenun.


PEMBAHASAN

Sesuai dengan kebutuhan manusia atas bahan sandang, aktivitas menenun mulai tersebar ke berbagai tempat di dunia. Penyebarannya pun cukup merata. Dari Benua Eropa, Amerika hingga ke Asia, dan akhirnya masuk ke wilayah Indonesia. Di Indonesia, tenun juga mengalami penyebaran hingga ke pelosok daerah dan hampir di semua tempat memiliki produksi tenun yang unik dan berkualitas. Begitu juga produksi kain tenun yang dibuat oleh suku Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang berada di Kota Saumlaki sudah dibuat sejak dari dulu. Orang Tanimbar atau penenun di Tanimbar tidak mengetahui lagi sejak kapan mereka membuat kain tenun. Menurut informan sejak nenek moyang mereka, mereka sudah menenun dari serat daun lontar untuk menutup tubuh. Menurut mereka menenun dengan serat daun lontar bahannya cepat rusak, dan mereka mengenal kapas. Pada waktu lampau mereka membuat bahan dasar kain dari kapas dan mereka meninggalkan menenun dari serat daun lontar, karena membuat tenun atau membuat benang untuk bahan dasar tenunan dari kapas, kain tenun lebih bertahan lama. Di Tanimbar sanggar-sanggar tenun sudah jarang memintal dari bahan kapas untuk pembuatan kain tenun, mereka lebih banyak memakai benang yang sudah dijual dipasaran untuk menenun, menurut mereka lebih praktis dan kain yang dibuat lebih cepat selesai dan cepat bisa dijual atau untuk dipakai sendiri dan juga untuk keperluan adat.


A.    Kegunaan kain tenun tanimbar
Selain kain digunakan untuk menutup tubuh fungsi yang lain dari kain tenun di Tanimbar adalah digunakan untuk acara-acara adat seperti pada saat orang mati, keluarga dari orang yang meninggal harus membawa kain tenun, baik dari pihak orangtua sendiri, saudara kandung , keluarga dari pihak bapak atau keluarga dari pihak ibu, ipar. Begitu juga pada saat upacara perkawinan, juga upacara pelantikan kepala desa dan upacara-upacara adat lainnya. Pada umumnya kain tenun bagi masyarakat Tanimbar dianggap sebagai barang yang cukup berharga.


B.  Modal produksi
Sementara untuk modal produksi Banyak sanggar-sanggar penenun di Kota Saumlaki yang memproduksikan kain tenun dengan hasil usaha sendiri artinya mereka tidak dapat bantuan dana dari pemerintah atau dari badan usaha lainnya. Untuk itu kain yang dihasilkan tidak terlalu banyak mengingat sanggar-sanggar penenun adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah, mereka sangat mengharapkan bantuan dana dari pemerintah daerah, tetapi sampai saat ini mereka belum tahu bagaimana caranya bisa mendapat bantuan dana dari pemerintah. Biasanya anggota dari sanggar-sanggar penenun membayar iuran untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kain yaitu; benang dan zat pewarna benang. Untuk alat-alat pembuatan kain tenun, kebanyakan alat-alat untuk menenun masih masih sangat sederhana yang dibuat dari kayu.


C. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan untuk memproses kapas menjadi benang:
Nasle
Huskwe
Sulbell
2. Alat yang digunakan untuk membuat motiv pada kain tenun:
Kokobal Ain
Batu kerikil
Nyiru
Ngenget Ain
3. Alat yang digunakan untuk menenun kain:
Tatan dase, lililing,dan Lkune eman
Tetean
Swane
Pete
Skawatam


B.     Proses pembuatan
Di Kota Saumlaki sanggar-sanggar tenun membuat kain tenun dengan dua cara yaitu
dengan membuat kain tenun dari bahan kapas yang dipintal menjadi benang dan membeli benang dari toko, menurut mereka kain tenun dari bahan kapas banyak digunakan untuk acara-acara adat dan juga banyak dicari/dibeli oleh turis-turis dari mancanegara karena harganya lebih mahal. Menurut turis yang membeli kain tenun dari bahan kapas mengatakan bahwa kain tenun lebih unik dan dianggap sebagai barang antik dengan warna-warni kain yang dibuat dari zat pewarna alamiah.
Untuk menenun sebuah kain yang dilakukan sesudah habis mengurus rumah tangga biasanya dikerjakan selama kurang lebih 7 hari, sedangkan kalau menenun tanpa mengerjakan pekerjaan rumah tangga yaitu memasak, mencuci dan lain-lain, pekerjaan ini dimulai dari pagi sampai sore hari dikerjakan selama 3 hari. Pada umumnya di Tanimbar seorang penenun mulai dari awal pembuatan motif kain sampai selesai membuat sebuah kain tenun bisa dikerjakan sendiri. Pertama-tama untuk membuat sebuah kain tenun terlebih dahulu harus dibuat motif pada sehelai kertas, sebelum pembuatan motif yang akan diikat pada benang untuk ditenun. Sesudah itu benang yang akan dipakai warnanya sesuai dengan selera penenun. Ada sanggar-sanggar yang masih menenun memakai benang yang dipintal dari kapas dan memakai benang yang dibeli dari toko, tetapi ada sanggar-sanggar yang tidak lagi memakai benang yang dipintal dari kapas, tetapi hanya membeli benang yang sudah jadi di toko. Disini akan diuraikan cara pembuatan kain tenun dari bahan benang kapas dan dari bahan benang pabrik.
a.       Kain Tenun dari benang kapas 
Untuk pembuatan kain tenun yang bermotif klasik mereka membuatnya dari bahan
kapas.Yaitu mula-mula kapas dibersihkan dari bijinya dengan cara memakai alat yang disebut
busur/huskwe (bahasa Selaru), sesudah itu kapas yang sudah bersih dimasukan ke dalam tempat yang disebut sulbeli atau bakul kecil yang dianyam dari daun koli. Untuk memintal kapas menjadi benang yang disebut sule, terbuat dari kayu atau bambu dengan garis tengah kurang lebih 4 mm, dan panjang sekitar 20 – 25 cm dengan bagian bawahnya dipasang kayu bulat tipis yang garis tengahnya kurang lebih 3 cm, juga digunakan alat bantu berupa kapur atau abu untuk melicinkan jari tangan. Benang yang telah dipintal kemudian dipindahkan ke kokobal ain untuk memudahkan penenun menghitung jumlah benang yang dibutuhkan dalam menyelesaikan sebuah tenunan. Sesudah itu benang dililit pada batu kerikil menjadi bola-bola kecil. Benang yang sudah dililit menjadi bola-bola kecil di letakkan pada snyarwain/ nyiru untuk nantinya dijalankan pada ngenget ain pada saat mau mengikat bunga. Selanjutnya benang dipasang pada ngenget ain dengan tujuan untuk mengikat motif/bunga sekaligus juga sebagai alat untuk menentukan lebarnya kain yang akan ditenun. Benang yang telah dipasang pada ngenget ain kemudian di bagi menjadi beberapa kelompok, selanjutnya setiap kelompok di ikat pada bagian-bagian tertentu untuk mendapatkan motif yang ingin digambarkan, selain itu pengikat juga berfungsi untuk melindungi motif dari warna yang tidak diinginkan pada saat pencelupan.
Untuk memudahkan seorang penenun mengikat keseluruhan rencana ornament/motif, mereka harus menggambarkannya terlebih dahulu. Gambar tersebut dijadikan dasar bagi sang penenun untuk melakukan ikatan. Di masa lalu orang Tanimbar menggunakan daun koli sebagai ikatan dalam pembuatan motif/ragam hias. Untuk membedakan setiap ikatan untuk motif/ragam hias dibuat tanda khusus pada ujung daun koli antara lain ikatan 1, ikatan 2, ikatan 3 dan seterusnya. Setelah ditemukan tali rafia tali dari daun koli ditinggalkan orang. Tali rafia dirasa lebih baik karena memiliki beberapa warna yang dapat membedakan disain motif/ragam hias. Benang yang telah diikat kemudian di beri warna dengan cara dicelupkan ke dalam panci yang telah berisi bahan pewarna. Untuk bahan pewarna kain mereka mengambil di lingkungan mereka. Waktu dulu orang Tanimbar membuat kain hanya ada tiga warna yaitu; warna hitam, kuning dan merah, untuk kain-kain yang model lama dan bermotif klasik warnanya hanya ada putih, kuning, merah dan hitam. Pewarna alam yang dipakai adalah untuk warna hitam, dipakai daun taru (bahasa Selaru), untuk warna kuning dipakai kulit pohon bengkudu/nengwe (bahasa Selaru), untuk warna merah dipakai kulit pohon tongke/mange-mange/tear) (bahasa Selaru) bahasa Indonesia pohon mangrove.
Untuk pembuatan benang berwarna hitam dengan cara daun taru diremas-remas dan dimasukan ke dalam air, sesudah itu benang dimasukan dan direndam kurang lebih selama 2 jam, sesudah itu dianggkat dan digantung dan dijemur di panas matahari sampai kering. Untuk pewarna kuning atau merah prosesnya sama yaitu; untuk warna kuning kulit pohon bengkudu diambil dan dipatah-patah dan direbus sampai airnya mendidih dan air rebusan sudah berwarna kuning, air rebusan diangkat langsung benang direndam selama kurang lebih 2 jam baru dikeringkan dengan cara digantung dan dijemur di panas matahari sampai kering. Begitu juga untuk pewarna merah, kulit pohon tongke dipatah-patah dan direbus sampai
airnya mendidih dan air rebusan sudah berwarna merah, air rebusan diangkat langsung benang direndam selama kurang lebih 2 jam. Setelah proses perendaman selama 2 jam selesai benang diangkat dan dibersihkan dengan air dan dikeringkan dengan cara digantung dan benang diberi pemberat agar benang tetap span dan lurus dan dijemur di panas matahari sampai kering. Untuk pewarnaan pada benang ada yang dicelup dengan bahan pewarna sebelum mengikat motif dan ada yang mengikat motif baru benang dicelup pada bahan pewarna. Sesudah benang dijemur kering, maka proses selanjutnya adalah benang dilepas dan diatur pada alat tenun untuk siap ditenun.

b.      Kain Tenun Dari Benang Pabrik 
Untuk pembuatan kain tenun dari benang pabrik hampir semuanya sama dengan proses pembuatan kain tenun dari benang kapas. Perbedaannya yaitu pada saat pembuatan kain tenun dari kapas harus dipintal lebih dahulu menjadi benang sesudah itu baru di buat kain tenun, sedangkan untuk benang pabrik langsung diproses menjadi kain tenun. Untuk membuat kain tenun dari benang pabrik biasanya penenun sebeblum menenun menjadi kain terlebih dahulu benang dicuci, sesudah kering baru ditenun tujuannya agar pada saat sudah menjadi kain tenun, mutu/kualitas kain lebih baik. Perbedaan lain dari benang yang dipintal dari kapas yaitu; pada saat sudah menjadi kain tenun lebih berat dari kain tenun yang dibuat dari benang pabrik.


C.    Dokumentasi
Alat-alat yang digunakan:
A.    Alat-alat yang digunakan untuk memproses kapas menjadi benang antara lain;
Gambar.1 Nasle
- Nasle, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan isi kapas dari bijinya. 
Gambar.2 Busur/Huskwe
- Isi Kapas (Bahasa Desa Selaru disebut gahas kegisige) adalah hasil pembersihan yang
dilakukan dengan nasle.
- Sulbeli (Bahasa desa Wowonda dan Selaru) adalah sebuah alat yang dianyam dari daun
koli berbentuk seperti bakul kecil yang gunanya untuk mengisi isi kapas yang siap
dipintal/diputar menjadi benang. 
Gambar.3 Bakul Kecil/Sulbeli
- Apono, tempat kapur/abu untuk melicinkan jari tangan
Gambar.4 Tempat kapur/abu/apono
-Sule (Bahasa desa Wowonda dan Selaru) adalah alat yang dibuat dari kayu atau bambu
dengan garis tengah kurang lebih 4 mm, panjangnya kurang lebih 20 –25 cm dengan
dibawahnya dipasang kayu bulat tipis dengan garis tengahnya 3 cm. Gunanya untuk
memintal kapas menjadi benang.
Gambar.5 Sule
Alat-alat yang digunakan untuk mengingat motif pada benang untuk membuat kain tenun antara
lain;
- Kokobal ain (bahasa Desa Wowonda), Tititke (bahasa Selaru) adalah sebuah alat yang
dibuat dari bambu dan gaba-gaba atau kayu yang gunanya untuk memasang benang yang
siap untuk dibentuk menjadi bola kecil, dan menjaga agar benang tidak akan mengalami
ikatan/rusak.

   B.  Alat-alat yang digunakan untuk mengingat motif pada benang untuk membuat kain tenun antara lain;
Gambar.6 Kokobal Ain
- Batu kerikil adalah sebuah alat yang digunakan untuk melilit benang menjadi bola kecil.
Gambar.7 Batu kerikil
- Snyarwain (bahasa Desa Wowonda), Kliehke (bahasa Selaru) adalah sebuah piring/nyiru
kecil yang dianyam dari daun koli, yang gunanya untuk meletakkan benang-benang yang
sudah berbentuk bola, untuk nantinya dijalankan pada ngenget ain (bahasa Desa Wowonda), elela (bahasa Desa Selaru) pada saat mau mengikat motif di kain.
Gambar.8 Snyarwain/nyiru
- Ngenget ain (bahasa Desa Wowonda) elela (bahasa Desa Selaru) adalah sebuah alat yang
dibuat dari kayu atau gaba-gaba yang tujuannya untuk mengikat motif dan sekaligus juga
alat untuk menentukan lebarnya kain yang akan ditenun.
Gambar.9 Snyarwain/nyiru
- Ngenget ain (bahasa Desa Wowonda) elela (bahasa Desa Selaru) adalah sebuah alat yang
dibuat dari kayu atau gaba-gaba yang tujuannya untuk mengikat motif dan sekaligus juga
alat untuk menentukan lebarnya kain yang akan ditenun.

    C.     Alat-alat yang digunakan untuk menenun kain antara lain;
Gambar.10 Tatan dase, Lililing dan Lkune eman
- Lkune isin (bahasa Desa Wowonda) adalah nama benang yang dipakai untuk melilit
benang dengan lkune eman.
- Tetean (bahasa Desa Wowonda) adalah alat tenun bentuk pipih yang terbuat dari kayu
yang gunanya untuk menekan isi kain agar benang dapat diangkat dengan lkune eman
dan lkune isin dan pete siap dimasukan lewat celah yang ada.
Gambar.11 Tetean
- Swane (bahasa Desa Wowonda) adalah alat yang dibuat dari bambu/kayu yang gunanya
untuk melilit isi benang yang akan digunakan untuk menenun.

Gambar.12 Swane

- Pete (bahasa Desa Wowonda) adalah alat tenun berbentuk seperti parang yang digunakan
untuk menguatkan/mengeraskan isi kain yang ditenun. 
Gambar.13 Pete
- Todik/totodik (bahasa Desa Wowonda)adalah alat yang dibuat dari bambu dengan ukuran lebar sekitar 1 – 2 cm dengan kedua ujungnya yang tajam. Gunanya untuk menahan isi
kain yang sudah ditenun agar lebarnya tetap sempurna/lurus.
- Skwatam (bahasa Desa Wowonda) adalah sebuah alat tenun yang dibuat dari kayu yang
gunanya untuk menahan benang/isi kain bagian bawah.
Gambar.14 Skwatam
- Ftyeu adalah sebuah alat yang dibuat dari kain atau anyaman daun lontar yang diikat pada
ujung-ujung skwatam. Sedangkan ditengahnya adalah orang yang akan menenun.
Gunanya untuk menekan benang/isi kain agar tetap tegang/span dan siap untuk ditenun
 Gambar.15 Ftyeu
- Mpwayar kulit (bahasa Desa Wowonda) kulit gaba-gaba adalah alat yang digunakan
untuk menahan/sebabagi dasar penahan tenunan agar isi kain tetap kuat dan merapat.
Gambar dibawa merupakan proses pembuatan kain tenun


Daftar Pustaka


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan