Jathilan Kenya Mayangkara


 JATHILAN KENYA MAYANGKARA
Oleh :Argin Nur Nafeta Devi (2016015320)

ABSTRAK
Indonesia memiliki banyak kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang tidak banyak diketahui oleh generasi muda. Budaya dan tradisi yang dipercaya seacara turun temurun dan itu merupakan identitas yang harus dijaga dan dilestarikan oleh para bangsa. Salah satunya adalah seni budaya jatilan. Seni budaya jatilan ini masih dilestarikan oleh berbagai daerah, salah satunya berasal dari komunitas menya mayangkara dimana seni budaya jatilan ini pemainya berasal dari berbagai daerah. Seni tari tradisional merupakan salah satu bentuk kebudayaan daerah yang kental dengan nilai-nilai sejarah dan pesan-pesan filosofis, seperti aspek spiritual, moral, dan sosial. Kesenian tradisional terutama tarian seni jathilan ini sudah mulai tidak ada yang tertarik dan sudah jarang terlihat, hampir punah. Dari penjelasakn di atas artikel ini bertujuan untuk mengapresiasi seni tari khusunya seni tari jatilan yang sekarang masih ada di beberapa daerah dan hampir punah sehingga seni tari jatilan  yang masih ada di berbagai daerah dapat dilestraikan.


Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan kebudayaan dari sabang sampai merauke. Kekayaan yang dimiliki bukan hanya berupa kekayaan sumber daya alam saja , tetapi masyarakat Indonesia juga memiliki kekayaan lain seperti kesenian daerah, adat istiadat, dan tradisi. Menurut (DITJENBUD, 2000) kebudayaan adalah bagian dari kesenian, Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku pasti memiliki keunikan dan kekhasan yang masing-masing berbeda. Sehingga setiap daerah tentu memiliki kebudayaan yang dapat dibanggakan salah satunya adalah kesenian. Kesenian pada dasarnya dibagi menjadi dua yaitu, seni rupa dan seni pertunjukan. Salah satu bentuk seni pertunjukan adalah seni tari. Seni tari Indonesia merupakan gambaran adat dan budaya yang memiliki ciri khas dari masing-masing daerah.  


Pembahasan
1.      Sejarah Jathilan
Jathilan berasal dari kalimat jawa “jaranane jan thil-thilan tenan” yang jika dibahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “ kudanya benar-benar joget tak beraturan”. Jatilan adalah sebuah kesenian yang menyatukan antara unsure gerakan tari dengan magis. Jenis kesenian ini dimainkan dengan property berupa kuda tiruan atau sering disebut kuda lumping, yang terbuat dari anyaman bamboo atau kepang. Kesenian yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang ini dapat dijumpai di daerah-daerah jawa.. Setiap seni tari Jathilan tentu memiliki makna tersendiri contohnya di salah satu komunitas Yogyakarta tepatnya berada di dusun kaliwanglu, sleman yaitu Menya Mayangkara, nama tarian pada sanggar Menya Mayangkara adalah tarian sentheweree. Kesenian jaranan tari sentherewee ini adalah sebuah pertunjukan yang menceritakan tentang kisah diboyongnya Dewi Songgo langit oleh Klana Sewandoro dari Kediri menuju wengker bantar angin. Pada jaman kerajaan Kediri diperintah oleh Prabu Airlangga, Prabu Airlangga memiliki seorang putrid yang bernama Dewi Sangga Langit, Dewi Sangga Langgit adalah putri yang sangat cantik sehingga banyak sekali para raja yang ingin mempersuntingnya, oleh sebab itu Prabu Airlangga mengadakan sayembara, sayembara berasal dari keinginan Putri Sangga Langit dimana Putri Sangga Langit meminta “barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum pernah ada di dunia maka Dewi Sangga Langit siap menjadi istrinya”.
Akan tetapi sebelum para pelamar sampai dihadapan Prabu Airlangga mereka beradu kesaktian ketika mereka bertemu ditengah jalan, para pelamar semuanya sakti. Memiliki ilmu kedigjayaan yang sangat hebat, para pelamar tersebut diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wangker, Toh Bagus Utusan Singo Barong dari Blitar. Mereka bertemu dijalan dan bertengkar, dalm peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono dan Pujangganom, Pujangganom unggul yudo melawan Prabu Singo Ludoyo dari Blitar namun Klono Swandono tidak membunuh Prabu Singo Luhdoyo. Prabu Singo Luhdoyo yang berubah menjadi singa bercunduk bulu merak dikunci ilmunya sehingga tidak bisa berubah menjadi manusia dan Prabu Singo Luhdoyo dipakai untuk iring-iring temanten Klano Swandono dengan  Dewi Sangga Langit. Iring-iringan itu berjaln melewati bawah tanah dengan diiringi oleh jaran-jaran dan alat musik yang bersal dari bamboo serta besi, dalam perjalanan mengiringi temanten Dewi Sangga Langit dengan Pujangganom Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, padahal dia masih sampai di Gunung Liman, singo Luhdoyo marah-marah dan mengobrak-abrik Gunung LIman yang akhirnya tempat tersebut dikenal dengan nama Sirmoto. Setelah Dewi Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wwngker melewati Bantar Angin, di Abntar Angin Dewi Sangga Langit berhenti sejenak melihat joget dan iring-iring temanten. Dewi Sangga Langit sangat gembira dan mengubah nama tempat itu menjadi Ponorogo. Begitulah jaranan Senterewe awalnya terjadi untuk menggambarkan boyongnya Dewi Sangga Langit dari Kediri menuju Wengker Bantar Angin. Sesampainya di Wengker Bantar Angin berulah Singo Barong dan jaran kepang berjoget pada akhirnya munculah kesenian Reog Ponorogo.
2.      Pelaksanaan Tarian
Secara umum pagelaran kesenian ini dimula dengan tarian-tarian oleh para penari yang gerakannya sangat pelan namun kemudian gerakanya perlahan-lahan menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan.. Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perebuatan baik dan selalu ingat pada sang pencipta, namun ada juga setelah menyanyikan lagu-lagu tertentu para penari kerasukan roh halus sehingga hampir tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka menari mengikuti suara gamelan yang dimainkan.
3.      Perlengkapan Jatilan
Perlangkapan yang digunakan untuk menggiringi jathilan adalah gamelan. Gamelan yang digunakan pada umumnya adalah drum, kendang, kenong, gong, dan slompret. Sedangkan property yang diigunakan untuk seni tari jathilan secara umum tergantung dengan cerita yang akan dibawakan atau berasal dari ciri khas suatu jatilan itu berasal dari daerah mana. Jatilan menggunakan banyak property salah satunya adalah kuda tiruan yang tebuat dari bambu, ini memiliki arti untuk mengapresiasi dan mendukung rakyat jelata terhadap pasuka berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajahan Belanda pada jaman dahuluPada seni jathilan dari komunitas Menya Mayangkara ini menggunakan kostum yang dibuat sendiri oleh sanggarnya dan tidak memiliki arti dalam segi keseluruhan namun kostum ini digunakan sebagai cirri khas dari jathilan itu sendiri. Untuk tarian sentherewee ini identik dengan menggunakan sempyok seperti rompi dan menggunakan sanggul yang kemudian dipasangkan mahkota sehingga terlihat lebih anggun, kostum ini yang membedakan tarian sentherewee dengan jathilan yang lainnya. Sedangkan untuk iringan yaitu diiringi  musik internal. Iringan musik yang digunakan menggunakan gamelan yang terdiri dari kendhang.


 Kesimpulan
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya, bukan hanya kaya akan sumber daya namun juga kaya akan kebudayaan. kebudayaan adalah bagian dari kesenian, Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku pasti memiliki keunikan dan kekhasan yang masing-masing berbeda. Salah satu kebudayaan yang dimiliki Indonesia adalah kesenian, baik seni rupa maupun seni pertunjukan. Salah satu kesenian pertunjukan di Indonesia adalah kesenian tari jathilan. Kesenian tari Jatilan adalah sebuah kesenian yang menyatukan antara unsure gerakan tari dengan magis. Kesenian ini yang juga sering disebut dengan nama jaran kepang ini dapat dijumpai di daerah-daerah jawa.. Masih ada beberapa daerah yang masih melestraikan kebudayaan kesenian tari jathilan ini di daerahnya. Tentu saja kebudayaan kesenian tari jathilan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi tarian, alunan gamelan, karakter make up dan lagu-lagu yang dibawakan. Pada zaman sekarang kesenian tarian jathilan ini sudah jarang dikenal atau dietahui oleh para generasi muda. Oleh karena itu sebagai generasi muda kita harus mempelajari kebudayaan apa saja yang ada di Indonesia, agar kebudayaan yang masih ada dan hapir punah dapat dilestarika kembali sehingga kebudayaan-kebudyaan di Indonesia tidak akan punah.


LAMPIRAN

            
                          

            Ketika sedang  bersiap keluar panggung          Tradisi sebelum dimulai pertunjukan
                                        
Pada saat pertunjukan dimulai

                         
                       

                                 Kostum                             Foto bersama sinden
         
                        

    Pada saat dandan












Referensi


DITJENBUD, T. (2000). Strstegi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Indonesi. Indonesia: Direktorat Jendral Kebudayaan.
wawancara komunitas Menya Mayangkara



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan