Fenomena Ruwatan (Potong Rambut) Anak-Anak Rambut Gimbal Di Dataran Tinggi Dieng Titipan Kyai Kolo Dete


Fenomena Ruwatan (Potong Rambut) Anak-Anak Rambut Gimbal Di Dataran Tinggi Dieng Titipan Kyai Kolo Dete
Nama : Muhamad Wahyu Adinugroho ( 2016015329 )


Abstract.
Terdapat sebuah fenomena di daerah Dataraan Tinggi Dieng yaitu adanya anak-anak yang berambut gimbal (tumbuhnya rambut gimbal pada anak). Anak ini biasanya berusia beberapa bulan hingga 8 tahun.Tidak ada garis keturunan khusus dari anak yang berambut gimbal. Siapapun, asal memiliki garis keturunan Dieng, memiliki kemungkinan menjadi anak berambut gimbal. Masyarakat Dieng menyebut anak berambut gimbal dengan sebutan ‘anak gembel’. Karena rambut gimbal sering dikaitkan dengan orang yang jarang mandi atau malas mengurus tubuh mereka. Padahal, anak berambut gimbal merupakan anak yang terawat.
Menurut masyarakat Dieng, anak berambut gimbal merupakan titipan dari Kyai Kolo Dete. Kyai Kolo Dete merupakan salah seorang punggawa pada masa Mataram Islam  (abad 14). Bersama Kyai Walid dan Kyai Karim, Kyai Kolo Dete ditugaskan oleh Kerajaan Mataram untuk mempersiapkan pemerintahan di daerah Wonosobo dan sekitarnya. Kyai Walid dan Kyai Karim bertugas di daerah Wonosobo, sementara Kyai Kolo Dete bertugas di Dataran Tinggi Dieng.Tiba di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolo Dete dan istrinya (Nini Roro Rence) mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan. Pasangan ini ditugaskan membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan. Tolak ukur sejahteranya masyarakat Dieng akan ditandai dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal. Sejak itulah, muncul anak-anak berambut gimbal di kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Munculnya rambut gimbal akan ditandai dengan panas tubuh yang tinggi selama beberapa hari. Suhu tubuh anak tersebut akan normal dengan sendirinya pada pagi hari, bersamaan dengan munculnya rambut gimbal di kepala sang anak. Rambut gimbal ini hanya akan dipotong dalam prosesi khusus (ruwatan). Pengadaan ruwatan harus mengikuti aturan khusus dan atas dasar kemauan dari si anak berambut gimbal. Biasanya, sebelum dilakukan prosesi pemotongan (ruwatan),  si anak akan mengajukan suatu permintaan. Permintaan ini harus dituruti oleh orangtuanya. Masyarakat sekitar meyakini, jika pemotongan dilakukan tanpa melalui upacara tertentu, atau bukan atas kemauan si anak, atau permintaannya tidak dikabulkan, rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh kembali.


Pendahuluan
A.      Latar Belakang
Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau yang penuh dengan aneka ragam suku bangsa dan kebudayaan.Setiap suku bangsa di Indonesia menciptakan, menyebarluaskan dan mewariskan kebudayaan masing-masing dari satu generasi ke generasiberikutnya.
Keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan itu pada hakikatnya adalah satu dan memberi identitas khusus serta menjadi modal dasar pengembangan budaya bangsa.Keanekaragaman kebudayaan pada setiap suku bangsa di Indonesia menunjukkan kekayaan kebudayaan Nusantara.Masing-masing daerah di Indonesia memiiki ciri khas kebudayaan yang berbeda-beda.
Di daerah Wonosobo terdapat bermacam-macam budaya, salah satunya adalah Budaya Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar. Menurut Karkono Kamajaya dkk (1992:10) “Kata Ruwatan berasal dari kata ruwat yang berarti bebas,lepas. Kata mangruwat atau ngruwatartinya membebaskan,melepaskan”. Ruwatan adalah ritual sakral dengan tujuan untuk membebaskan, membersihkan seseorang dari sesuatu yang dipandang tidak baik atau buruk serta jahat. Biasanya, sebelum dilakukan prosesi pemotongan (ruwatan),  si anak akan mengajukan suatu permintaan. Permintaan ini harus dituruti oleh orangtuanya. Masyarakat sekitar meyakini, jika pemotongan dilakukan tanpa melalui upacara tertentu, atau bukan atas kemauan si anak, atau permintaannya tidak dikabulkan, rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh kembali. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak berambut gimbal tidak berbeda dengan anak-anak lainnya. Mereka bermain bersama dengan anak-anak lain. Hanya saja, anak berambut gimbal biasanya cenderung lebih aktif dibanding anak-anak lain.
B.       Tujuan
1.      Mengetahui sejarah atau asal mula dari Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
2.      Mengetahui prosesi pelaksanaan Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
3.      Mengetahui waktu diperbolehkannya memotong Rambut Gimbal
4.      Mengetahui bentuk dan isi doa yang digunakan dalam Ritual
5.      Mengetahui simbol instrument Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
6.      Mengetahui tujuan dari Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal


Pembahasan
A.      Sejarah/ Asal mula Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
Konon kabarnya, Anak Gimbal Dieng adalah titisan dari Kyai Kolodete.Kyai Kolodete dianggap sebagai luluhur pendiri Dieng.Leluhur ini bukan sesosok gaib, melainkan sesosok manusia yang pertama kali membuka tanah Dieng.Ia hidup pada masa kejayaan Mataram.Kyai Kolodete ini memiliki rambut Gimbal.
Kyai Kolodete dikenal sebagai seorang pemimpin, seorang penasihat dan seorang yang sangat berpengaruh dalam masyarakat di daerah Kawedanan Kertek dan sekitarnya.Jabatan formalnya adalah sebagai kebayan desa Tegalsari, Kertek, Wonosobo.
Kyai Kolodete berkeinginan bisa memajukan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga dan masyarakatnya.Maka, agar keinginannya lebih bisa direalisasikan, beliau bermaksud menjadi Lurah.Maksud ini mendapat dukungan kuat dari masyarakatnya.Masyarakat sudah menganggap bahwa dari sifatnya dan sikapnya, Kyai Kolidete dipandang telah memenuhi syarat sebagai Lurah.
Pada suatu hari, Kyai Kolodete mencalonkan diri untuk menjabat sebagai Lurah.Permohonan ini diajukan ke pemerintah pusat, yaitu Mataram.Namun, tanpa diketahui alasannya, permintaan itu ditolak.Ditolaknya permintaan itu membuat hati masyarakat menjadi kecewa.
Demikian juga dengan Kyai Kolodete.Beliau merasa malu terhadap rakyatnya.Sebagai pertanggungan jawab atas ditolaknya permohonan tersebut, beliau ingin mengasingkan diri dari keramaian dan ingin bertapa di Dataran Tinggi Dieng. Sebelum bertapa, beliau berpesan kepada rakyatnya:
Mung semene wae anggonku njuwita Pamarintah, aku arep menjang Dieng(Hanya sampai sekian aku mengabdi kepada Pemerintah, aku akan ke Dieng).
Dalam setiap doanya, beliau memohon kepada sang Khaliq supaya cita-citanya dahulu, yaitu membahagiakan dan mensejahterakan masyarakat bisa terkabul. Meski ia jauh menyepi tetapi ia tetap begitu mencintai rakyatnya. Tanda bukti kecintaan Kyai Kolodete kepada masyarakatnya berharap bisa direstui sang Khaliq. Tanda bukti itu ialah supaya anak cucunya nanti di kemudian hari akan berambut Gimbal seperti halnya rambut Kyai Kolodete. Dan, permohonan itu benar-benar dikabulkan sang Khaliq.
Sampai sekarang di Dataran Tinggi Dieng dan sekitarnya banyak terdapat anak berambut Gimbal. Oleh masyarakat, anak berambut Gimbal ini disebut Anak Gimbal dan dianggap titisan Kyai Kolodete yang berkekuatan gaib itu.Namun, cerita itu bukan versi satu-satunya tentang Kyai Kolodete dan Anak Gimbalnya.
Ada versi cerita lain tentang Kyai Kolodete dan rambut Gimbal yang berkaitan dengan mitos Nyi Roro Kidul, penguasa Ratu Selatan Jawa. Cerita ini disadur dari penuturan Mbah Naryono, pemangku adat Dieng Kulon, Kec. Batur, Kabupaten Banjarnegara.
Syahdan, datangnya rambut Gimbal sebenarnya berasal dari Ratu Laut Kidul.Ratu Laut Kidul menitipkan rambut Gimbal kepada Tumenggung Kolodete.Tumenggung Kolodete adalah seorang panglima dari Keraton Yogyakarta yang sedang mengasingkan diri di kawasan Dieng.
Singkatnya, keturunan gaib dari Tumenggung Kolodete akan mempunyai rambut Gimbal. Keturunan gaib ini adalah anak bajang titipan Nyi Roro Kidul. Suatu saat rambut Gimbal anak bajang akan diminta kembali oleh Ratu Laut Kidul. Pengembalian rambut Gimbal dilakukan melalui ruwatan dimana rambut Gimbal yang diruwat dilarung ke saluran air yang mengalir ke Laut Selatan Jawa.
Satu lagi versi cerita tentang Kyai Kolodete.Kali ini saya peroleh berhubungan dengan sejarah Wonosobo.Konon ceritanya bahwa Kyai Kolodete merupakan satu dari tiga tokoh yang mendirikan Kota Wonosobo, yakni bersama dengan Kyai Walik dan Kyai Karim.
Kyai Walik merancang tata kota Wonosobo. Kyai Karim menjadi peletak dasar-dasar pemerintahan di Wonosobo.Dan, Kyai Kolodete pergi ke Wonosobo bagian utara di kawasan Dieng membuat perkampungan.Ketiga tokoh itu menjalin kerjasama yang erat, saling mendukung dan melengkapi demi memajukan perkampungan Wonosobo.
Kyai Kolodete bersama keluarga dan pengikutnya membabat alas Dieng yang masih perawan.Tujuannya adalah untuk dijadikan perkampungan penduduk, lahan pertanian, dan ladang sebagai sumber penghidupan.Kyai Kolodete kemudian diyakini menjadi ‘merkayangan’ atau penguasa Dieng.
Kyai Kolodete ini memiliki rambut Gimbal semenjak kecil. Menurut mitosnya, lantaran rambut Gimbalnya begitu mengganggu, sebelum meninggal Kyai Kolodete berpesan agar anak cucunya membantu dalam menghadapi gangguan rambut itu.Maka, diwariskanlah rambut Gimbalnya pada anak-anak Dataran Tinggi Dieng hingga sampai sekarang.
Ada benang merah yang bisa menghubungkan versi-versi cerita leluhur Dieng dan muasal Rambut Gimbal.Semua sama-sama membicarakan Kyai Kolodete.Semua sepakat bahwa Kyai Kolodete adalah leluhur Dieng yang ‘menitiskan’ rambut Gimbal kepada bocah-bocah Dieng.

B.       Prosesi pelaksanaan Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
Dalam melakukan Ruwatan Anak Gimbal Masyarakat Dieng memiliki dua pilihan menu.Bisa memilih secara mandiri atau massal.Pertimbangannya menyesuaikan kemampuan keluarga yang meruwat anak Gimbalnya.
Jika keluarganya sendiri bisa memenuhi permintaan dan memiliki biaya menyelenggarakan, ruwatan secara mandiri bisa dilaksanakan.Namun, jelas ruwatan secara mandiri membutuhkan biaya besar.Harus menanggung segala biaya seremoni ruwatan.
Maka, masyarakat Dieng lebih banyak memilih meruwat anak Gimbalnya secara massal.Masyarakat ‘urunan’ gotong royong melakukan ruwatan.Biaya dan tenaga ruwatan ditanggung bersama. Tentunya, ruwatan secara massal ini juga akan lebih meriah. Ribuan masyarakat Dieng berbondong-bondong datang memenuhi lokasi.Bisa dikatakan, ruwatan massal sekaligus menjadi pesta rakyat Dataran Tinggi Dieng.
Lazimnya, setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa atau bulan Agustus adalah saat pelaksanaan Ruwatan.Namun, ruwatan tetap bisa dilaksanakan di luar waktu lazimnya.Tak jadi masalah kapanpun ruwatan dilakukan.
Dalam pelaksanaannya, prosesi ruwatan ditandai dengan pembacaan doa di rumah Pemuka Adat Dieng terlebih dulu. Kemudian dilanjutkan dengan kirab arak-arakan Anak Gimbal yang diruwat menuju Kompleks Candi Arjuna.Halaman rumah Pemuka Adat menjadi tempat pemberangkatan Kirab.Kirab ini menyertakan barang-barang permintaan Anak Gimbal dan ‘uborampe’ sesaji berupa nasi tumpeng, ayam panggang, dan jajanan pasar.Kirab juga dimeriahkan dengan beragam pentas seni dari penduduk sekitar.
Kirab berjalan dengan mengelilingi kawasan Dieng sebagai upaya napak tilas. Napak tilas ini menuju beberapa tempat, yaitu candi Dwarawati, komplek candi Arjuna, candi Gatotkaca, candi Bima, sendang Maerokotjo, telaga Balekambang, kawah Sikidang, komplek pertapaan Mandalasari, kali Kepek dan komplek pemakaman Dieng. Pada saat kirab berjalan, para anak Gimbalakan dilempari beras kuning dan uang koin.
Kirab lalu singgah ke Dharmasala untuk dilakukan jamasan Anak Gimbal di Sendang Sedayu.Tatkala memasuki sendang Sedayu, anak-anak Gimbal berjalan dinaungi oleh Payung Robyong di bawah kain kafan panjang di sekitar sendang sambil diiringi musik Gongso.Air untuk jamasan tersebut ditambah kembang tujuh rupa (sapta warna) dan air dari Tuk Bimalukar, Tuk Sendang Buana (Kali Bana), Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido (Tuk Pitu).
Setelah penjamasan selesai, anak-anak rambut Gimbal dikawal menuju tempat pencukuran, yakni di kompleks Candi Arjuna.Prosesi pencukuran rambut Gimbal merupakan puncak prosesi Ruwatan Anak Gimbal.
Prosesi Ruwatan pencukuran Rambut Gimbal dipimpin langsung Pemuka Adat Dieng.Namun begitu, orang yang mencukur tidak harus Pemuka Adat Dieng.Orang-orang yang ditunjuk adat, misal Bupati dan Pejabat Pemerintah dapat menjadi pencukur rambut Anak Gimbal.Pencukuran dilakukan di halaman Candi Puntadewa, Kompleks Candi Arjuna. Setelah rambut Gimbal selesai dicukur, potongan rambut itu diletakkan pada cawan berisi air dari Bima Lukar dan bunga setaman.
Setelah pencukuran, acara dilanjutkan dengan doa dan tasyakuran. Lalu, semua ‘uborampe’ prosesi dibagikan kepada para pengunjung.Konon ceritanya itu dapat membawa berkah pada yang membawanya.
Ritual terakhir dalam ruwatan anak Gimbal adalah melarung potongan rambut.Larung dilakukan di tempat yang terdapat air yang mengalir ke pantai selatan Jawa.Lokasi larung rambut Gimbal ini dilakukan di Sendang Sukorini, Kali Tulis.Biasanya juga dilakukan di Telaga Warna. Tempat-tempat itu memiliki hubungan dengan Samudera Hindia.

C.      Diperbolehkan Pemotongan Rambut Gimbal
Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal biasanya dilaksanakan setiap tahun pada tanggal Satu Sura.
Tidak ada patokan yang pasti pada anak umur berapa rambut Gimbal akan dipotong, akan tetapi hal tersebut akan dilakukan pada saat anak telah cukup umur (lebih kurang dari 7 – 10 tahun)  dan orang tuanya telah sanggup memenuhi syarat-syarat yang diperlukan.
Potong Gimbal dilakukan setelah anak memintanya untuk dipotong. Pada umumnya disertai dengan permintaan si anak yang harus dituruti, seperti minta dibelikan kambing, sapi, uang, mainan anak-anak, atau benda-benda lain. Tidak ada pola tentang permintaan anak Gimbal ini, bisa mulai dari permintaan yang sederhana sampai dengan yang tidak mungkin dituruti oleh orangtuanya.Jika permintaan memang tidak dapat dipenuhi rambut anak itu pun tidak dipotong hingga dewasa bahkan meninggal dunia.

D.      Bentuk dan Isi Doa yang digunakan dalam Ritual Ruwatan Potong Rambut Gimbal
Dalam Ritual Ruwatan Potong Rambut Gimbaldoa yang dilantunkan menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Arab (sesuai dengan doa dalam agama Islam) yang dilantunkan bersama dibawah pimpinan seorang pemuka agama.
Pembacaan doa ini bertujuan untuk memohon kepada Tuhan, sang penguasa alam dan isinya untuk memberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya. Dalam konsep Jawa berdoa juga mempunyai arti untuk memohon perlindungan kepada penguasa alam raya sehingga umat manusia dapat memperoleh kebahagiaan dan keselamatan.
Isi doa yang dilantunkan dalam Ritual Ruwatan Potong Rambut Gimbal berisi permohonan kepada Allah untuk mengampuni dosa, menjauhkan diri dari segala kemungkaran, memberikan rahmat serta hidayahnya dan rejeki yang banyak

E.       Simbol Instrumen Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
1.      Tumpeng Robyong
Tumpeng Robyong adalah tumpeng putih yang harus ada ketika Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal, bentuknya sama seperti tumpeng pada umumnya yaitu berbentuk kerucut, ditaruh diatas tampah di ujung atas tumpeng terdapat telur ayam utuh. Bawang merah utuh,cabai merah, aneka buah seperti tomat, salak, dan apel semuanya ditusuk seperti satai menggunakan bilah dari bambu atau sujen tertancap melingkar di sekelilingnya.
Makna Tumpeng robyong Menurut masyarakat Dieng adalah Bahwa hidup ini senantiasa dikelilingi berbagai sifat-sifat kehidupan siluman, agar lepas dari gangguan itu harus dibuat sesaji agar terlepas dari cengkeraman siluman dan kembali berkembang secara wajar.
2.      Jajan Pasar
Jajan pasar adalah berbagai jenis makanan kecil yang biasa dijual di pasar-pasar.Namun menurut warga Dieng jajan pasar adalah, seperti jenang, onde- onde, dan apem.Makna dari Jajan Pasar adalah diharapkan setelah diruwat bias lebih dewasa tidak lagi seperti anak kecil, tetapi dapat hidup mandiri dapat menjadi panutan atau menjadi teladan.
3.      Bakaran Menyan
Saat prosesi ruwatan tepatnya sebelum membaca doa menyan dibakar, ketika menyan dibakar pasti mengeluarkan asap. Asap larinya pasti keatas, jadi pembakaran dupa bermaksud agar doa yang di minta bisa sampai kepada Tuhan yang Maha Kuasa.
4.      Larungan Rambut Gimbal
Larungan adalah pembuangan rambut Gimbal kesungai serayu yang ada di Dieng, sungai tersebut mengalir sampai laut selatan.Pelarungan potongan rambut Gimbal ke sungai menyimbolkan pengembalian bala (kesialan) yang dibawa si anak kepada para dewa dan Nyi Roro Kidul. Ada kepercayaan bahwa anak-anak Gimbal ini ditunggui jin dan pemotongan rambut tersebut akan mengusir jin keluar dari tubuhnya sehingga segala bala akan hilang dan rezeki pun datang.
Sesaji-sesaji yang disediakan pada acara ruwatan ini merupakan lambang permohonan petunjuk dan keselamatan bagi perjalanan hidup si anak. Ada beberapa sesaji yang biasa digunakan, seperti :
1)      Ambeng bodro, berupa nasi yang dikelilingi lauk pauk tempe, tahu dan telur,
2)      Ambeng bobrok, berupa ketan yang diberi gula merah, jenang merah putih serta jajan pasar, dan
3)      Sesaji lain yang diperlukan antara lain : kepala kambing, ingkung ayam, nasi tumpeng, bunga mawar, aneka minuman, kemenyan, air kendi, sisir serta cermin, dan lain-lain.
Nilai sesaji ini sangat bergantung pada kemampuan masyarakat yang menyelenggarakan, sehingga hal ini akan dilaksanakan bila orang tua sudah siap. Bahkan bila mempunyai kemampuan lebih sering diselenggarakan dengan pergelaran wayang kulit.

F.     Tujuan Ritual Ruwatan Cukur Rambut Gimbal
Tujuan utama masyarakat di Dieng menyelenggarakan Ritual Ruwatan Potong Rambut Gimbal, selain untuk mengucap syukur atas segala karunia Allah juga memohon perlindungan dari Allah, menjauhkan dari segala marabahaya dan mendapatkan rejeki yang melimpah, sehingga dapat membawa kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kepada seluruh warga masyarakat.


Penutup
A.    KESIMPULAN
Ruwatan adalah ritual sakral dengan tujuan untuk membebaskan, membersihkan seseorang dari sesuatu yang dipandang tidak baik atau buruk serta jahat.
Dalam prosesi upacara ruwatan ini,ternyata terdapat akulturasi antara nilai- nilai tradisi lokal dan nilai-nilai Islam, seperti halnya dalam  upacara ini masih terdapat seseji-sesaji sebagai perlengkapan upacara yang menandakan sebagai tradisi lokal, sedangkan nilai Islamnya terdapat pada do’a-do’a yang di gunakan.
Beberapa yang menjadi inti dalam pelaksanaan upacara memotong rambut Gimbal Untuk itu perlu disediakan beberapa yang harus ada misalnya dengan adanya tumpeng yang terbuat dari nasi berbentuk kerucut melambangkan kekuasaan Tuhan, tumpeng rombyong menggambarkan alam seisinya.
Lauk-pauk yang ditancapkan ditumpeng menggambarkan rambut Gimbal. Tumpeng rombyong ditujukan kepada Kyai Kolodete yang berambut Gimbal.
Tumpeng kuning melambangkan kekuasaan Tuhan, ditunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagainya.


















Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan