BUDAYA NYADRAN DI DUSUN NOGOSARI MADUREJO PRAMBANAN SLEMAN

BUDAYA NYADRAN DI DUSUN NOGOSARI MADUREJO PRAMBANAN SLEMAN
Oleh:
Dimas Arnianto
2017015129
6F
Abstrak
Tradisi adalah kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat. Tradisi merupakan mekanisme yang dapat membantu untuk memperlancar perkembangan pribadi anggota masyarakat, misalnya dalam membimbing anak menuju kedewasaan. Tradisi juga penting sebagai pembimbing pergaulan bersama di dalam masyarakat. Pentingnya tradisi dengan mengatakan bahwa tanpa tradisi, pergaulan bersama akan menjadi kacau, dan hidup manusia akan menjadi biadab. Namun demikian, jika tradisi mulai bersifat absolut, nilainya sebagai pembimbing akan merosot. Jika tradisi mulai absolut bukan lagi sebagai pembimbing, melainkan merupakan penghalang kemajuan. Oleh karena itu, tradisi yang kita terima perlu kita renungkan kembali dan kita sesuaikan dengan zamannya.Upacara Nyadran menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Upacara ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan bisa juga menjadi bentuk syukuran massal. Dalam konteks Jawa nilai sosial tradisi nyadran dikaitkan dengan upaya mempertahankan ingatan agar tidak lupa asal-usulnya. Leluhur Jawa punya wasiat bijak. Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi.


Kata Kunci: Nilai, Nyadran


Pendahuluan

Kebudayaan dapat dikatakan merupakan hasil karya dari manusia yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan. Pedoman-pedoman itu yang mengatur pola hidup dan juga tingkah laku dari manusia itu sendiri. Tingkah laku dan kebiasaan dari setiap manusia itu bisa dikatakan sebagai kebudayaan. Kebudayaan merupakan elemen yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Di satu sisi, manusia mencipta budaya, namun di sisi lain, manusia merupakan produk dari budaya tempat dia hidup. Hubungan saling pengaruh ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa budaya, betapapun primitifnya. Kehidupan berbudaya merupakan ciri khas manusia dan akan terus hidup melintasi alur zaman. Sebagai warisan nenek moyang, kebudayaan membentuk kebiasaan hidup sehari-hari yang diwariskan turun-temurun. Ia tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia dan hampir selalu mengalami proses penciptaan kembali. Di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini, kehidupan manusia pun semakin beragam. Seiring dengan itu, budaya terus-menerus mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir dan cara bertindak manusia dalam kehidupannya. Perkembangan budaya ada yang berlangsung cepat (revolusi kebudayaan) dan ada pula yang berkembang perlahan (evolusi kebudayaan). Perkembangan budaya jenis yang kedua ini atau yang bersifat evolutif hampir tidak bisa dirasakan gerak pertumbuhannya sebab berlangsung lama. Ia seakan-akan hadir dan membekas dalam diri manusia tanpa dirasakan oleh yang bersangkutan, baik secara individu (person) maupun kelompok (kolektif). Meski demikian, satu kenyataan yang pasti adalah kebudayaan terus dan akan menggiring atau digiring oleh manusia menuju tingkat peradaban yang lebih maju. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prosesi ritual dan makna serta nilai filosofisnya dalam tradisi nyadran itu sendiri. Tradisi nyadran adalah salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat. Tradisi ini dilaksanakan menjelang puasa Ramadhan atau tepatnya di bulan Sya’ban.Dalam konteks sosial dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana pembangunan jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran penulis akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial.



Pembahasan

Ramadhan merupakan bulan kesembilan setiap tahun Qamariah. Pada bulan ini umat muslim baik laki-laki maupun perempuan di wajibkan untuk berpuasa yaitu menekan kehendak perut dan kehendak syahwat. Sebab bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah, rahmat dan magfiroh (ampunan). Pada sisi realitasnya masyarakat menyambut bulan suci tersebut dengan kegiatan nyadran. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada baragam kebudayaan, tepatnya di Dusun Nogosari Madurejo Prambanan Sleman. Salah satunya adalah upacara nyadran. Nyadran menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Upacara ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan bisa juga menjadi bentuk syukuran massal. Dalam konteks Jawa, nilai sosial tradisi nyadran dikaitkan dengan upaya mempertahankan ingatan agar tidak lupa asal-usulnya. Upacara nyadran dengan membawa berbagai makanan dan hasil bumi untuk ditukar dan dimakan bersama ribuan pengunjung merupakan bentuk pendidikan untuk saling berbagi kepada sesama sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan melalui alam. Selain itu prosesi ritual yang melibatkan bantuan berbagai pemeluk agama merupakan bentuk pendidikan moral bagi masyarakat. Mereka menjadi terbiasa hidup berdampingan dengan penganut iman yang berbeda, mereka bisa saling menghargai dan dapat hidup berdampingan dengan damai. Makna dari prinsip tradisi nyadran bagi masyarakat adalah adanya pendidikan kesalehan ritual, individu, dan sosial. Pembukaan acara upacara tradisional nyadran dimulai di depan rumah kediaman bapak Kadus jam 15:30 wib. Sebelum acara nyadran pada jam 14:00 para pemuda membersihkan tempat terlebih dahulu dan mengambil alat-alat seperti: tikar, sound system, dan lain sebagainya. Setelah bersih baru mulailah para pemuda menyediakan tikar untuk seluruh warga. Setelah siap melaksanakan nyadran, barulah acara dibuka oleh pembawa acara yaitu Bapak Surono. Kemudian sambutan oleh Bapak Kadus. Acara inti atau doa dipimpin oleh Mbah Kaum. Prosesi Nyadran diakhiri dengan perarakan rombongan warga desa ke makam nenek moyang warga. Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda. Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayem, dan tenteram. adapun makna dan nilai-nilai filosofis tradisi nyadran adalah: melestraikan warisan nenek moyang, wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai wadah silaturahmi, perwujudan sikap rukun, perwujudan sikap hormat, perwujudan kedewasaan kehidupan beragama, dan sebagai perwujudan sikap keseimbangan kehidupan sosial.

Penutup

Tradisi nyadran ini merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal Jawa dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami. Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Tata cara setiap rangkaian Nyadran ini menyiratkan nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotongroyong, guyub, pengorbanan, ekonomi. Kegiatan nyadran ini di gunakan sebagai salah satu ritual untuk mengucapkan rasa syukur mereka kepada Allah atas rizki yang telah di dapat yakni panen raya. Di sisi lain masyarakat beranggapan bahwa nyadran ini baik adanya karena dapat menjalin silaturrahim antar keluarga, tetangga. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental.


Lampiran




Refrensi:

Wahyu Nur Alifiana. 2013. PERUBAHAN BUDAYA DALAM TRADISI NYADRAN DI KELURAHAN NGANTRU KECAMATAN TRENGGALEK KABUPATEN TRENGGALEK JAWA TIMUR. Jurnal Universitas Muhammadiyah Purworejo. Vol /0 2 / No. 01

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRADISI RASULAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Tradisi “Kondangan Rayahan” Di Dusun Bapangan Rw 08, Karangtalun, Karangdowo Klaten, Jawa Tengah

Kebudayaan Daerah Kebumen Tradisi Janengan