Budaya Gumbreg Di Desa Jetis Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul
BUDAYA
GUMBREG DI DESA JETIS KECAMATAN SAPTOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Oleh
: Tri Nur Puspitasari
NIM
: 2016015145
ABSTRACT
Gumbreg
adalah salah satu kebudayaan yang masih dilakuakan sampai sekarang oleh
masyarakat daerah Gunung Kidul. Gumbreg dilakukan oleh masyarakat Gunung Kidul
sebagai bentuk rasa syukur terhadap hewan ternak mereka karena sudah membantu
dalam mencari rejeki atau sudah memberi banyak manfaat bagi pemiliknya. Dalam
kegiatan gumbreg ini semua hewan ternak sedang diberi makanan yang enak
sehingga acara gumbreg ini juga biasa disebut sebagai lebaran hewan. Masyarakat
percaya apabila memberikan makanan yang enak kepada hewan-hewan yang ia
pelihara maka hewan-hewan yang di pelihara akan tumbuh sehat dan terhindar dari
mara bahaya. Bahan-bahan yang digunakan dalam Gumbreg adalah Rakan atau Sesaji. Rakan yaitu
sajian yang terdiri dari beberapa makanan yang merupakan hasil bumi atau
palawija yang telah dikukus, diantaranya ketela pohon, talas, ubi jalar ( uwi,
gembili), jadah waron (ketan kukus), jenang
katul dan aneka bentuk ketupat, yaitu ketupat Luar, Kodok, lepet dan cepuk yang telah diisi nasi atau jadah.
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Masyarakat jawa masih mempertahankan adat
istiadatnya secara turun temurn. Mereka percaya bahwa adat istiadat yang
dilakukan dapat mengindarakan dari bencana alam dan mara bahaya serta
memberikan limbahan rejeki karena dilancarkan urusannya. Tidak terkecuali
tradisi gumbreg yang dilakukan oleh masyarakat Desa Jetis, Kecamatan Saptosari,
Kabupaten Wonosari, Gunungkidul. Masyarakat Desa Jetis masih melaksanakan tradisi
gumbreg yang biasa disebut lebaran hewan oleh masyarakat sampai sekarang Gumbreg
dilakukan oleh masyarakat Gunung Kidul sebagai bentuk rasa syukur terhadap
hewan ternak mereka karena sudah membantu dalam mencari rejeki atau sudah
memberi banyak manfaat bagi pemiliknya. Dalam kegiatan gumbreg ini semua hewan
ternak sedang diberi makanan yang enak sehingga acara gumbreg ini juga biasa
disebut sebagai lebaran hewan. Masyarakat percaya apabila memberikan makanan
yang enak kepada hewan-hewan yang ia pelihara maka hewan-hewan yang di pelihara
akan tumbuh sehat dan terhindar dari mara bahaya. Mayoritas pekerjaan
masyarakat Gunung Kidul khususnya Desa Jetis adalah bertani dan berternak
sehingg.a kebudayaan gumbreg ini masih rutin dilakukan bahkan dilestarikan kepada
anak cucunya secara turun temurun.
Tujuan
Upacara Gumbreg
1. Bentuk
rasa bersyukur kepada Tuhan atas limbahan rezeki panen yang melimpah dan hewan
ternak yang sehat.
2. Bentuk
ucapan terimakasih pemilik ternak kepada hewan ternaknya karena telah membantu
dan bermaanfaat bagi kehidupan pemilik ternak.
3. Masyarakat
percaya bahwa dengan melaksanakan ritual gumbregan maka hewan ternaknya akan
terhindar dari segala mara bahaya.
4. Upaya
melestarikan adat istiadat peninggalan nenek moyang.
PEMBAHASAN
Filosofi
Gumbregan
Gumbregan
berasal dari kata gumbreg kemudian mendapat imbuhan –an. Gumbreg adalah salah
satu nama wuku. Gumbreg merupakan wuku keenam. Wuku sendiri adalah periode waktu selama 7 hari, yang setiap wuku
memiliki nama yang berbeda-beda, seperti Warigalit,
Warigagung, Julungwangi, dan seterusya. Dalam kebudayaan Jawa mengenal 30 wuku
yang memiliki makna sendiri-sendiri.
Gumbreg adalah
tradisi kebudayaan Jawa yang masih dilakukan secara turun-temurun dan
dilestarikan oleh masyarakat Desa Jetis. Masyarakat Desa Jetis yang sebagian
besar bermata pencaharian sebagai petani melaksanakan Gumbreg sebagai upacara
ucap syukur kepada Sang Maha Kuasa serta ucapan terima kasih kepada hewan
ternaknya yang telah membantu dan berperan serta dalam mencari rejeki. Masyarakat
Desa Jetis mengenal Gumbreg sebagai lebaran hewan. Lebaran hewan yang dimaksud
adalah lebaran hewan ternak yang dipelihara oleh masyarakat setempat seperti
kerbau, sapi, kambing, ayam dan hewan ternak lainnya. Tradisi Gumbreg ini
sendiri bertujuan agar hewan peliharaan tersebut dapat berkembang biak dengan
baik, sehat, aman dari segala mara bahaya, serta mampu memberikan manfaat bagi
pemeliharanya.
Bahan-Bahan
Ritual Gumbregan
Bahan-bahan yang
digunakan dalam Gumbreg adalah Rakan
atau Sesaji. Rakan yaitu sajian yang terdiri dari beberapa makanan yang
merupakan hasil bumi atau palawija yang telah dikukus, diantaranya ketela
pohon, talas, ubi jalar ( uwi, gembili), jadah
waron (ketan kukus), jenang katul dan aneka bentuk ketupat,
yaitu ketupat Luar, Kodok, lepet dan cepuk yang telah diisi nasi atau jadah.
Masing-masih
bahan sesaji memiliki makna sendiri-sendiri yaitu jadah waron maksudnya agar tradisi gumbregan ini melekat di hati
manusia seperti ketan yang lengket dan melekat. Sehingga para peternak tidak
lupa ntuk selalu bersyukur kepada Yang Maha Kuasa dan hewan peliharaanya.
Umbi-umbian, maksudnya untuk mengingatkan bahwa umbi-umbian juga berkat dari
Tuhan yang menyelamatkan masyarakat pada saat masa pacekelik. Jenang katul, maksudnya bentuk cinta
petani atau masyarakat terhadap hewan peliharaannya. Karena sapi, kerbau,
kambing dan ayam setiap hari makan katul
atau dedak padi. Kupat luar, maksudnya bentuk minta maaf pemilik hewan kepada hewan
peliharaanya, selama memelihara dan merawat pasti tidak luput dari salah. Ketupat lepet dan kodok, maksudnya untuk
mempererat hubungan antara pemilik hewan ternak kepada hewan peliharaanya.
a) ketupat luar
b) ketupat lepet
c) ketupat cepuk
d) ketupat kodok
Sumber gambar: Sulastri Ida
(Jurnal Penelitian Humaniora)
Prosesi
Acara Gumbregan
Rangkaian acara kegiatan gumbregan
dimulai dengan menyiapkan rakan atau
sesaji. Semua bahan-bahan rakan
diletakkan di dalam baskom. Kemudian masyarakat berkumpul di rumah Pak RT untuk
melakukan kenduri (Doa Bersama)
sembari membawa rakan. Kemudian semua anggota kenduri duduk mengelilingi rakan
yang telah dibawa dan diletakkan di tengah-tengah mereka. “Manglung-manglung kebo sapine. Nek manak lanang iso ngebaki kandang.
Nek manak wedok iso nyesaki lawang…”, artinya “sapi dan kebo menampakkan
kepalanya ke luar kadhang. Apabila
memiliki anak laki-laki bisa menuhi kandhang dan apabila memiliki anak
perempuan bisa pintu menjadi penuh” merupakan sepatah doa yang diucapakan salah
seorang pemimpin doa ketika upacara Gumbreg dilaksanakan yang kemudian diamini
oleh masyarakat lainnya. Kemudian setelah kenduri selesai masyarakat kembali
kerumah masing-masing untuk melakuakann ritual makan sapi atau makan hewan
ternak.
Ritual
makan sapi terdiri dari makani sapi, ngalungi sapi dan masang
ketupat di kandhang sapi. Masyarakat memberi makan hewan ternaknya berupa rakan
tersebut, supaya hewan ternaknya dapat merasakan langsung jerih payahnya
membantu masyarakat dalam mencari rejeki.
Sumber gambar :
Sulastri Ida (Jurnal Penelitian Humaniora)
Ritual
ngalungi sapi yaitu pemilik sapi
memasangkan ketupat luar sejodho
atau dua buah ketupat kepada sapi miliknya. Tujuan sapi dipasang ketupat adalah
bentuk atau wujud tindakan nyata bahwa sang pemilik sapi sangat menyayangi hewan peliharaannya
dan wujun terimakasih sang pemilik karena hewan peliharaanya sudah banyak
memberi manfaat dalam pertanian dan perekonomian. Selain itu juga untuk
membentengi sapi atau hewan ternak lainnya dari maklhuk yang ada disekitarnya.
Sumber gambar : Sulastri Ida
(Jurnal Penelitian Humaniora)
Nilai
– Nilai Yang Terkadung Dalam Upacara
1. Nilai
religi
Nilai yang dapat diambil dari
upacara gumbregan adalah sebagai manusia kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa atas limpahan kenikmatan dan
rezeki yang di dapat selama ini. Segala sesuatu yang kita nikmati dan kita
dapat selama ini merupakan pemberian sang pencipta sebagai bentuk rasa sayang
kepada umatNya. Dapat dilihat dalam salah satu acara dari ritual gumbregan ini
yaitu doa bersama.
2. Nilai
Kemanusiaan
Salah satu acara yang terdapat
dalam upacara gumbreg yaitu bertukar sesaji atau berbagi sesaji kepada
masyarakat dan memberi makan kepada hewan ternak, makanan yang diberikan kepada
hewan ternaknya pun makanan yang terbaik. Sehingga mengajarkan untuk saling
berbagi, memberi dan membantu kepada sesama bahkan kepada hewan peliharaan
sekalipun. Hewan perliharaan juga berhak mendapat makanan yang terbaik karena
hewan yang kita pelihara sudah banyak membantu dan mengabdi kepada kita.
PENUTUP
Kesimpulan
Gumbregan
berasal dari kata gumbreg kemudian mendapat imbuhan –an. Gumbreg adalah salah
satu nama wuku. Gumbreg sebagai
upacara ucap syukur kepada Sang Maha Kuasa serta ucapan terima kasih kepada
hewan ternaknya yang telah membantu dan berperan serta dalam mencari rejeki. Tradisi
Gumbreg ini sendiri bertujuan agar hewan peliharaan tersebut dapat berkembang
biak dengan baik, sehat, aman dari segala mara bahaya, serta mampu memberikan
manfaat bagi pemeliharanya. Bahan-bahan yang digunakan dalam Gumbreg adalah Rakan atau Sesaji. Rakan yaitu
sajian yang terdiri dari beberapa makanan yang merupakan hasil bumi atau
palawija yang telah dikukus, diantaranya ketela pohon, talas, ubi jalar ( uwi,
gembili), jadah waron (ketan kukus), jenang
katul dan aneka bentuk ketupat, yaitu ketupat Luar, Kodok, lepet dan cepuk yang telah diisi nasi atau jadah.
Saran
Kebudayaan dan adat isti adat harus dilestarikan
agar anak cucu generasi kita dapat menikmati kekayaan Indonesia. Tetapi dalam
melakukan ritual budaya kita harus meperhatikan lingkungan sekitar. Jangan
sampai saat kita melaksanakan ritual justru merusak lingkungan sekitar dan
menimbulkan pencearan. Dan dalam melakukan ritual kita juga jangan sampai
melakukan hal-hal yang menyimpang dari agama.
SUMBER
1.
Wawancara dengan salah satu warga Desa
Jetis, Saptosari, Wonosari, Gunung Kidul yaitu Bapak Tukino.
2.
Sulastri Ida,2017. Jurnal Penelitian
Humaiora : Sesaji Kupatdalam Tradisi Gumbregandi Desa Kemiri Kecamatan
Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul. Vol.02. PP 57-70.
LAMPIRAN
Foto Bapak Tukino








Komentar
Posting Komentar